Lampung Democracy Studies (LDS) Wakili Lampung Dalam Agenda Asean Democracy Network (ADN) di Bali

  • Bagikan

Bandar Lampung (Potensinews.id) – Asean Democracy Network merupakan jaringan demokrasi yang di ikuti oleh lebih dari 40 Negara di Asia. Jaringan Demokrasi Asia (ADN) aktif di lebih dari 40 negara di Asia. Nilai-nilai inti ADN adalah untuk mempromosikan dan mempraktikkan prinsip-prinsip demokrasi melalui pengembangan pemerintahan inklusif, pemajuan hak asasi manusia, kesetaraan dan inklusivitas, pencegahan diskriminasi, keamanan manusia, promosi pemilihan yang bebas, adil dan bermakna, pendidikan demokrasi, & kebebasan pers dan tanggung jawab.

Dalam agenda ADN tersebut Fatikhatul Khoiriyah.S.H.I. MH. dan Yan Barusal.S.H dari Lampung Democracy Studies menjadi perwakilan NGO Demokrasi Lampung yang ikut serta dalam agenda yang di selenggarakan di Bali 7-8 November.

Baca Juga:  Kemendagri Turun Langsung ke Kota Bandar Lampung, Percepat Realisasi APBD Sejak Awal Tahun dan Dorong Penanganan Inflasi

Fatikhatul Khoiriyah Founder Lampung Democracy Studies itu mengatakan bahwa agenda itu merupakan agenda yang baik untuk untuk melakukan upaya peningkatan kapasitas jejaring masyarakat sipil yang berkonsentrasi pada upaya penguatan kualitas demokrasi. ungkapnya

“Lampung Democracy Studies Alhamdulillah bisa menjadi bagian dari ADN. agenda ini penting untuk dapat melihat lebih luas problem demokrasi hari ini”. ungkapnya

Selanjutnya Khoir juga mengatakan bahwa selain bagian dari upaya peningkatan kapasitas diri, agenda juga akan di manfaatkan untuk sharing apa saja persoalan demokrasi di Indonesia khususnya di provinsi Lampung. lanjutnya

“Kita sudah menyiapkan hasil riset dan analisis kawan-kawan LDS mengenai problem demokrasi dan agama, demokrasi dan ekonomi, demokrasi dan politik, demokrasi dan lingkungan, serta Hukum dan HAM khususnya yang ada di Lampung”. terangnya

Baca Juga:  LDS Sukses Gelar Bincang Demokrasi

Selain itu Yan Barusal pengurus divisi pendidikan dan pelatihan mengatakan bahwa upaya ADN ini menjadi kesempatan yang luar biasa untuk meningkatkan kapasitas diri seperti bagaimana melakukan kampanye advokasi serta upaya upaya menghadirkan narasi yang sehat di ruang publik.

“Salah satu problem yang menurut saya serius adalah masih dominannya narasi yang sentimentil yang menyasar emosional masyarakat, bukan demokrasi ide/gagasan dalam membangun keadilan dan kesejahteraan di masyarakat. Padahal sebelumnya para pendiri bangsa Indonesia mengajarkan kita untuk selalu mempersoalkan ide/gagasan, seperti apa yang di lakukan Mohammad Hatta misalnya, beliau dengan pemikirannya tentang demokrasi yang di tulisnya dalam buku Demokrasi Kita adalah contoh kritik melalui ide/gagasan tentang Demokrasi Terpimpin pemikiran dari presiden Soekarno saat itu. Hal semacam itulah yang harus kita upayakan bersama untuk hadir di ruang publik kita agar kualitas demokrasi di Indonesia semakin baik”. tutupnya (***)

Baca Juga:  LDS Gelar Diskusi Mendalam tentang Masa Depan Demokrasi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *