Staf Khusus Menag : Jangan Mudah Terjebak Dengan Simbol Agama

  • Bagikan
(Potensinews.id)

Potensinews.id, BANDARLAMPUNG – Seluruh umat beragama yang ada di Indonesia jangan terjebak pada simbol-simbol agama. Mari semuanya untuk mengedepankan esensi beragama agar menjadi umat yang moderat dalam beragama.

Hal tersebut diungkapkan oleh Staf Khusus (Stafsus) Menteri Agama, H M Nuruzzaman.

“Kita tidak boleh terjebak pada simbol-simbol agama. Dari dahulu kita sudah selesai dalam soal atribut-atribut misalnya gamis. Islam itu bukan gamis. Gamis itu bukan agama, yang agama itu aurat,” katanya.

Ia mengungkapkan, bangsa Indonesia menjadi satu bangsa yang hebat dalam mengelola perbedaan. Meskipun banyak perbedaan, suku, agama, ras dan sejenisnya, bangsa Indonesia tetap bisa rukun dan damai.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk bersyukur atas anugerah ini melalui bentuk merawat keragaman budaya dan kerukunan antar sesama anak bangsa. Semua harus bangga pada budaya luhur peninggalan para leluhur.

Baca Juga:  9 Napi Lapas Narkotika Kelas II A Dapat Remisi Khusus Natal

Jangan sampai, bangsa Indonesia membangga-banggakan tradisi dan budaya negara lain dengan kontra dan menjelek-jelekkan budayanya sendiri.

Selama ini NU telah menjadi contoh baik dalam merawat tradisi dan nilai atau esensi agama. Nahdlatul Ulama menurutnya mampu menjadikan tradisi dan budaya dalam satu frekuensi dengan tidak membentur-benturkan nya. Budaya dan tradisi dijadikan sebagai infrastruktur dakwah nilai-nilai Islam rahmatan lilalamin.

Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung, Dr. Puji Raharjo, S.Ag., S.S., M.Hum mengungkapkan, perjuangan dalam mendirikan Nahdlatul Ulama tidak jauh dari upaya merawat tradisi luhur yang telah dicontohkan Nabi, sahabat dan para ulama.

“NU lahir sebagai respon terhadap realitas global utamanya runtuhnya turun Turki Utsmani dan berdirinya kerajaan Arab Saudi kemudian adanya deklarasi hijaz,” ungkapnya.

Baca Juga:  Sekda Provinsi Lampung Fahrizal, Melepas Kusnardi Dan Ria Andari Memasuki Masa Purna

Lanjut H. Puji Raharjo, kelahiran NU merupakan manifestasi dari kesadaran teologis, sekaligus kesadaran politis untuk melestarikan dan mengembangkan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) di bumi Nusantara. (*/HPS)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *