Potensinews.id — Seorang warga Bandarlampung bernama Saparin resmi menggugat M. Tauhid ke Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang dalam perkara perdata terkait dugaan wanprestasi atau ingkar janji atas pinjaman uang senilai Rp128 juta.
Gugatan tersebut diajukan lantaran tergugat diduga tidak memenuhi kewajibannya untuk mengembalikan dana pinjaman yang sebelumnya disebut akan digunakan sebagai modal usaha pembelian jagung di sejumlah perusahaan, di antaranya PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) dan Cheil Jedang Indonesia CJ Feed and Care Indonesia (Grup Samsung).
Sidang perkara ini digelar di PN Tanjungkarang pada Kamis, 8 Januari 2026, dan dipimpin oleh Hakim Ketua Muhamad Hibrian.
Dalam persidangan tersebut, agenda sidang adalah mendengarkan keterangan saksi dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Bandarlampung. Namun, karena saksi dari BPN tidak hadir, majelis hakim memutuskan untuk menunda persidangan selama dua pekan.
Usai sidang, Saparin selaku penggugat membeberkan kronologi perkara. Ia menjelaskan bahwa M. Tauhid meminjam uang sebesar Rp128 juta dengan janji pengembalian dalam waktu satu minggu.
“Saudara M. Tauhid meminjam uang kepada saya sebesar Rp128 juta. Saat itu dia mengatakan uang tersebut akan digunakan untuk membeli jagung di CPI dan Cheil Jedang Indonesia. Janjinya hanya satu minggu, dan sebagai jaminan, ia meninggalkan sertifikat rumah,” ujar Saparin kepada wartawan.
Menurut Saparin, pinjaman tersebut diperkuat dengan surat perjanjian tertulis yang dibuat oleh tergugat. Dalam perjanjian tersebut disebutkan bahwa apabila tergugat tidak mampu mengembalikan dana pinjaman, maka sertifikat rumah yang dijaminkan dapat dibaliknamakan kepada penggugat.
“Dalam surat perjanjian itu jelas tertulis, apabila tergugat tidak sanggup mengembalikan uang pinjaman, maka sertifikat rumah tersebut dapat dibalik nama kepada saya,” jelasnya.
Namun hingga batas waktu yang disepakati, tergugat tidak juga memenuhi kewajibannya. Bahkan, dana pinjaman tersebut diduga dialihkan untuk keperluan trading, tidak sesuai dengan peruntukan awal sebagaimana disampaikan kepada penggugat.
Saparin mengaku telah menempuh berbagai upaya penyelesaian secara kekeluargaan dan perundingan, namun tidak membuahkan hasil.
“Dalam kenyataannya, tergugat tidak mau menepati janjinya. Saya sudah berusaha menyelesaikan secara baik-baik, tetapi tidak ada itikad baik. Karena itu, saya memutuskan menempuh jalur hukum,” ungkapnya.
Saparin berharap melalui proses hukum di PN Tanjungkarang, perkara tersebut dapat diselesaikan secara adil dan memberikan kepastian hukum bagi pihak yang dirugikan.
Sidang lanjutan dijadwalkan akan kembali digelar dua pekan mendatang dengan agenda pemeriksaan saksi dari pihak terkait.












