Opini

Aparat Pelindung atau Algojo Demokrasi?

×

Aparat Pelindung atau Algojo Demokrasi?

Sebarkan artikel ini
Aparat Pelindung atau Algojo Demokrasi?
I Kadek Ria Febri Yana, Ketua Milenial Indonesia Lampung. | Ist

Potensinews.id – Aparat pelindung atau algojo demokrasi?

Tragedi meninggalnya seorang pengemudi ojek online yang dilindas barracuda polisi dalam aksi Indonesia Cemas bukanlah sekadar insiden, melainkan bukti kebiadaban aparat di negeri ini.

Polisi yang seharusnya melindungi rakyat justru berubah menjadi algojo yang mencabut nyawa warganya sendiri dengan cara paling brutal.

Saya menolak keras narasi “oknum” yang selalu dijadikan tameng.

Kebrutalan aparat ini adalah pola yang berulang: gas air mata diarahkan ke anak-anak, pemukulan membabi buta, penangkapan sewenang-wenang, dan kini seorang rakyat kecil meregang nyawa di bawah roda kendaraan taktis.

Fakta ini menelanjangi wajah asli penegakan hukum di Indonesia bahwa hukum di Indonesia gelap, represif, dan jauh dari kemanusiaan.

Baca Juga:  Pisah Sambut Kajati Lampung, Momentum Menagih Komitmen Penegakan Hukum

Permintaan maaf dari pejabat tidak akan pernah cukup.

Kami menuntut pengungkapan identitas pengemudi barracuda, proses hukum yang transparan, dan penindakan terhadap rantai komando yang memberi perintah.

Tanpa itu semua, negara hanya sedang mempertontonkan kebohongan dan membiarkan kekerasan aparat terus berulang.

Hari ini korban adalah seorang ojol, besok bisa siapa saja.

Mahasiswa, buruh, bahkan keluarga kita sendiri. Karena itu saya menyerukan solidaritas seluruh elemen masyarakat untuk melawan normalisasi kebrutalan aparat, dan mengingatkan: negara ada untuk rakyat, bukan untuk menggilasnya.

Lampung, 29 Agustus 2025

I Kadek Ria Febri Yana
Ketua Milenial Indonesia Lampung