Artikel

Sajak-sajak Cinta dan Kerja Mengingat

×

Sajak-sajak Cinta dan Kerja Mengingat

Sebarkan artikel ini
Sajak-sajak Cinta dan Kerja Mengingat
Kesibukan Membuat Sejarah (Pustaka LaBRAK, 2025), karya Udo Z Karzi. | Ist

Potensinews.id – DALAM buku puisi Kesibukan Membuat Sejarah (Pustaka LaBRAK, 2025), Udo Z Karzi tidak menempatkan cinta sebagai tema yang berdiri sendiri, terpisah dari sejarah, politik, dan kebudayaan. Hampir seluruh sajak dalam buku ini sesungguhnya bergerak di wilayah cinta—baik dalam pengertian personal maupun universal—meskipun hanya dua judul yang secara eksplisit memuat kata “cinta”: “Begitulah Cinta” dan “Ajari Kami Bahasa Cinta”. Namun, justru dari ketiadaan kata itulah cinta bekerja lebih luas: merembes ke puisi tubuh dan kampung, bahasa ibu dan kopi, hingga ke bencana ekologis, luka sosial, dan kesadaran zaman.

Dalam “Begitulah Cinta”, cinta tidak hadir sebagai perayaan romantik, tetapi sebagai pengalaman paradoksal: lucu sekaligus menyakitkan, manis sekaligus mendera. Cinta digambarkan sebagai daya yang membuat manusia hidup, tetapi juga sanggup membuaskan dan memusnahkan. Menariknya, puisi ini bergerak dari wilayah perasaan menuju wilayah sosial: konflik, kekerasan, dan saling meniadakan justru dibaca sebagai tanda bahwa “masih ada cinta di antara kita”. Dengan demikian, cinta pada Udo bukan emosi privat semata, melainkan energi relasional yang menentukan cara manusia memperlakukan sesamanya.

Dimensi ini menjadi lebih politis dalam “Ajari Kami Bahasa Cinta”. Di sini cinta secara terang dipertentangkan dengan kekerasan, piil yang membeku menjadi harga diri kosong, pembunuhan massa, dendam, dan represi negara. Permohonan “ajari kami bahasa cinta” berarti permohonan mengganti bahasa kekuasaan dan bahasa senjata dengan bahasa penyair: bahasa empati, ingatan, dan kedamaian. Cinta tidak lagi sentimental, tetapi etis.

Sisi paling lirih dari cinta muncul dalam parsial Tilas Perjalanan. Dalam “Hampa”, cinta sepenuhnya hadir sebagai kerja mengenang yang gagal:

“tapi, aku tak menjumpaimu kembali
jalan-jalan, lapangan, jejeran rumah panggung
yang aku lewati seperti sengaja menyembunyikanmu
aku menjadi sunyi
aku menjelma sepi
aku merasa hampa”
(1987)

Baca Juga:  Fenomena Politik Dagang Sapi dalam Pilkada di Indonesia

Kekasih telah melebur menjadi lanskap. Tubuh yang dirindukan berubah menjadi ruang yang kosong. Cinta tidak menemukan tujuannya selain kesadaran akan kehilangan.

Nada serupa muncul dalam “Kepada Ina”. Kerinduan tidak lagi tertuju pada sosok, melainkan pada “seberkas cahaya” yang tak kembali. Malam, dingin, dan kantuk membangun atmosfer beku:

“ada resah menyelimuti tubuhnya yang membeku kaku
kekecewaan menjalari segenap jiwanya”
(1988)

Cinta di sini bukan peristiwa, melainkan keadaan: kesunyian yang menetap di dalam tubuh.

Sementara itu, “Muli Pantau” menghadirkan wajah cinta yang lebih hangat dan kultural. Perempuan (Maryam) hadir bersama pantau, nyambai, segata, redap, serdam, talo balak. Hasrat bergerak seiring adat. Tubuh perempuan tidak berdiri sendiri, tetapi terikat pada ritus sosial:

singgah di pantau, aku terkenang muli yang mengalungkan selendang di leher
membuatku terkesiap malu
menggetarkan sekujur jiwa
menyebabkanku tak lena bermalam-malam
sibuk mengartikannya
” (1997–2025)

Cinta di sini bukan hanya relasi personal, melainkan pengalaman estetik di dalam dunia budaya Lampung.

Berbeda dengan puisi-puisi dalam Tilas Perjalanan, sajak-sajak dalam parsial Tilas Leluhur dan Tilas Negeri memperlihatkan pergeseran penting: cinta tidak lagi terutama tertuju pada kekasih, tetapi pada khalayak, sesama manusia, kampung halaman, dan negeri yang terluka. Di sini cinta tampil sebagai keprihatinan, keberpihakan, dan protes terhadap ketidakadilan, korupsi, dan sikap arogan pengusaha–penguasa.

Dalam “Liwa”, kampung halaman diperlakukan seperti kekasih yang dikhianati:

sakit hatiku mendengar keserakahan penguasa dan kerakusan pengusaha
yang merusak ham tubiyu, telaga tempatku memancing ikan dan berenang

Baca Juga:  Dulu Dipandang Sebelah Mata, Pemuda Asal Gorontalo Ini Kelola 20 Server Internasional dari Desa

Relasi intim (“percumbuan kita kemarin”) berubah menjadi relasi ekologis–politik. Bahkan larik penutup—“kau punya orang lain. segalanya bukan untukku”—menyusun kehilangan tanah dengan gramatika patah hati.

Dalam “Musim Kopi, 3”, cinta menemukan wujud komunalnya. Repong kopi bukan sekadar tanaman, melainkan sumber hidup, pendidikan, ibadah, dan rencana masa depan:

dari kopi inilah
kami orang pekon
bernafas-hidup

Cinta di sini bersifat material dan historis: keterikatan pada kerja, tanah, dan siklus hidup orang pekon.

Puisi “Kidupan” membawa cinta ke wilayah paling ideologis. Di sini cinta menjelma pembelaan atas nama, ingatan, dan hak kultural. Pergantian nama, betonisasi, dan pemalsuan peta dibaca sebagai pelintiran sejarah:

seolah sejarah adalah tanah kosong
yang bebas digarisi ulang dengan nama baru
.”

Cinta terhadap Kidupan adalah cinta terhadap makna yang diwariskan leluhur—dan sekaligus penolakan terhadap kolonisasi baru yang bekerja lewat bahasa, pembangunan, dan administrasi.

Sementara itu, “Balik Bukit” memperlihatkan cinta sebagai kerja mengulang ingatan. Bukan nostalgia pasif, melainkan usaha sadar “mendaur ulang ingatan-ingatan” tentang masa kanak-kanak, kota kecil, dan dunia yang ditinggalkan. Cinta di sini adalah kesetiaan pada sesuatu yang telah terlewati.

Dari parsial Tilas Negeri, cinta pun dapat kita hidu secara eksplisit dalam “Kenapa Harus Takut pada Kegelapan” dan “Sejarah Hari Ini”. Dalam puisi pertama, cinta tampil sebagai keberanian untuk menemani di dalam gelap, sebagai penolakan membiarkan dingin dan kesepian “memagut”:

sebab, akan kupeluk kau
dengan erat dan hangat
kutemani kau
menemui malam
” (2025)

Cinta di sini adalah kehadiran. Ia bukan pengusiran gelap, melainkan kesediaan hidup di dalamnya.

Baca Juga:  Demokrasi Dikebiri: DPR Dituding Berselingkuh dengan Oligarki

Dalam “Sejarah Hari Ini”, cinta berubah menjadi keberpihakan historis. Ladang, sungai, hutan, petani, dan nelayan ditempatkan sebagai subjek sejarah. Sejarah tidak ditulis oleh mesin, tetapi oleh tubuh-tubuh kecil:

sejarah tak ditulis dengan tinta mesin
melainkan oleh mereka yang bernyanyi
di gubuk reot penuh hujan dan harapan

Pertanyaan-pertanyaan penutupnya—tentang akar, ingatan, dan luka—menegaskan bahwa cinta kepada negeri berarti menolak sejarah yang dibangun dengan penghapusan.

Secara estetik, sajak-sajak cinta Udo menolak romantisisme konvensional. Ia jarang mengandalkan metafora agung atau rayuan sentimental. Ia memilih bahasa hemat, citraan sehari-hari, dan nada reflektif. Kopi, hujan, kebun, rumah panggung, alat musik tradisi, dan jalan kampung menjadi perangkat utama. Kesederhanaan ini bukan kekurangan estetik, melainkan pilihan etik: cinta tidak dibesarkan oleh retorika, tetapi oleh kesetiaan pada pengalaman.

Dalam keseluruhan buku, sajak-sajak cinta berfungsi sebagai sisi lain dari proyek “membuat sejarah”. Jika sajak-sajak sosialnya mengkritik bagaimana sejarah ditulis, dipalsukan, dan dilupakan, maka sajak-sajak cintanya menyimpan apa yang tak pernah masuk arsip: rindu, kesepian, hasrat, rasa malu, dan luka yang tak diberi nama. Ia merekam sejarah dari dalam tubuh.

Dengan demikian, cinta dalam Kesibukan Membuat Sejarah bukan pelarian dari sejarah, melainkan salah satu cara paling sunyi untuk mengalaminya. Mencintai—perempuan, kampung, bahasa, kopi, dan nama-nama tua—menjadi kerja kultural. Ia adalah bentuk perlawanan paling halus terhadap lupa. []

 

___________
Helmi Fauzi, pembaca sastra, praktisi pemberdayaan masyarakat, tinggal di Bandar Lampung.