Potensinews.id — SASTRA Udo Z Karzi selalu bergerak di perbatasan: antara ingatan dan lupa, antara bahasa lokal dan bahasa nasional, antara sejarah resmi dan sejarah yang dihidupi sehari-hari. Dalam tiga karya terbarunya—Surat Cinta untuk Pithagiras yang Lupa Ditulis (2024), Minan Lela Sebambangan (2024), dan Kesibukan Membuat Sejarah(2025)—perbatasan-perbatasan itu tidak sekadar dipetakan, melainkan diguncang. Ketiganya membentuk satu medan kebudayaan yang saling menjalin: novel sebagai arsip emosi generasi, cerpen sebagai politik bahasa dan lokalitas, serta puisi sebagai laboratorium sejarah.
Novel: Ingatan sebagai Medan Politik dan Cinta
Surat Cinta untuk Pithagiras yang Lupa Ditulis bukan sekadar novel tentang cinta; ia adalah rekaman getar satu generasi yang belajar berpolitik sambil belajar mencintai. Udo menempatkan romansa sebagai pintu masuk ke lanskap kebudayaan yang lebih luas—tempat idealisme, kegagalan, dan ingatan saling bertabrakan.
Nada ini sudah terasa sejak awal, ketika narator mengingat slogan-slogan mahasiswa awal 1990-an yang penuh semangat sekaligus naif:
“Bagaimana dengan sepotong pena, kita merebut kekuasaan,” itu kata-kata kita yang baru saja diajari konsep politik. Itu masih mending; ada yang lebih parah: “Bagaimana dengan sehelai daun, kita melakukan revolusi.” Gombal betul-betul gombang mahasiswa awal tahun 1990-an. Tapi, biar gombal, kami juga romantis. Aku, seperti juga beberapa mahasiswa yang aku ketahui, suka puisi dan menulis sajak-sajak. (hlm. 57)
Di sini, Udo memperlihatkan paradoks generasi: idealisme yang mulia, tetapi sering terbungkus retorika berlebihan. Namun alih-alih meremehkan, ia memandangnya dengan empati—seolah berkata bahwa kegombalan pun adalah bagian sah dari proses kebudayaan.
Ingatan dalam novel ini bukan nostalgia yang manis, melainkan ingatan yang jujur, kadang rapuh, kadang getir. Narator sadar akan keterbatasannya:
“Aku bukan siapa-siapa dalam aksi-aksi itu, Pitha. Aku sekadar mengingat dan merasa perlu menceritakan ini kepadamu.” (hlm. 107)
Kalimat ini penting. Udo menolak posisi pahlawan; ia memilih posisi saksi. Dengan begitu, novel menjadi arsip pengalaman “orang kebanyakan”—mereka yang tidak tercatat dalam buku sejarah, tetapi yang sesungguhnya menghidupi zaman.
Pada saat yang sama, novel ini menempatkan tanah dan kerja sebagai fondasi kebudayaan. Sosok Tamong Manan, misalnya, menggambarkan etika bertani yang khas:
“Bagi Tamong Manan, bertani ya berkebun kopi. Yang lain-lain—seperti bersawah, bertanam sayuran, dan buah-buahan—hanyalah tanaman selingan sebelum menanam dan berkebun kopi. Kopi itu andalan untuk hidup lebih layak, membangun rumah, menyekolahkan anak, dan mewujudkan mimpi-mimpi di masa depan.”
Di sini, kopi bukan sekadar komoditas; ia adalah kosmologi hidup. Udo menempatkan kerja agraris sebagai basis kebudayaan, bukan latar eksotis. Novel ini, dengan demikian, mengikat cinta, politik, dan tanah dalam satu simpul ingatan yang kompleks.
Cerpen: Bahasa sebagai Rumah dan Perlawanan
Jika novel beroperasi di wilayah memori generasional, Minan Lela Sebambangan bergerak di jantung bahasa dan lokalitas. Kumpulan cerpen ini memperlihatkan bagaimana bahasa Lampung bukan sekadar alat komunikasi, tetapi rumah kebudayaan—tempat dunia dimaknai.
Petikan dalam cerpen pembuka, “Minan Lela Sebambangan” dalam kumpulan ini sudah menghadirkan suasana intim sekaligus misterius:
“Biasanya aku sudah tertidur, lalu terbangun, tetapi pura-pura tetap terlelap—atau memang belum tidur—ketika ada langkah kaki naik tangga rumah. Awalnya saya kira maling. Tapi, rupanya Minan Lela sudah mengenali langkah dan suara lelaki yang baru saja naik.” (hlm. 4)
Bujuk-rayu yang berlangsung “bermalam-malam di antara muli dan meranai” memperlihatkan bagaimana adat, cinta, dan bahasa terjalin. Bahkan detail kecil seperti kata “Setekut namanya!” menjadi penanda dunia sosial yang khas—kata yang tak sepenuhnya dapat diterjemahkan tanpa kehilangan rasa.
Dalam cerpen “Bak, Buku-Buku, dan Pelajaran Mengarang”, Udo menulis tentang asal-usulnya sebagai penulis, tetapi selalu dikaitkan dengan lingkungan kulturalnya:
“Bak memang tidak pernah meminta saya menjadi penulis, tetapi boleh jadi beliaulah yang menjerumuskan saya untuk menggeluti dunia kepenulisa. Waktu kuliah saya aktif di pers mahasiswa.” (hlm. 53)
Di sini, kepenulisan bukan bakat individual semata, melainkan hasil relasi keluarga, pendidikan, dan komunitas. Sastra tumbuh dari jaringan sosial—bukan dari menara gading.
Cerita tentang selera musik dalam cerpen “Tiga Kisah Mansur” di halaman 66 memperlihatkan hal yang lebih halus: bagaimana perbedaan selera menjadi cermin perbedaan kelas, selera, dan identitas. Udo menulis dengan humor yang hangat:
“Kalau mendengar Mirza menyenandungkan lagu pop, Kifli suka meledeknya, ‘Wui, itu lagu pop, bukan dangdut!’”
Dialog ringan ini sesungguhnya menyimpan politik budaya: batas antara “pop”, “dangdut”, dan “kasidahan” adalah batas selera, tetapi juga batas identitas sosial. Udo menunjukkan bahwa kebudayaan hidup dalam percakapan sehari-hari—bukan hanya dalam perdebatan intelektual.
Dengan Minan Lela Sebambangan, Udo menegaskan bahwa merawat bahasa daerah adalah tindakan politis. Sastra menjadi strategi pemertahanan: setiap cerita adalah pagar terhadap kepunahan bahasa, setiap dialog adalah perlawanan terhadap homogenisasi.
Puisi: Sejarah yang Bernyanyi dari Bawah
Jika novel adalah arsip emosi dan cerpen adalah arsip bahasa, maka Kesibukan Membuat Sejarah adalah arsip waktu. Seratus sajak yang membentang hampir empat dekade memperlihatkan perjalanan batin, estetika, dan politik Udo Z Karzi.
Dalam “Muli Pantau”, ingatan personal bertemu dengan erotika halus kebudayaan lokal:
“Singgah di pantau, aku terkenang muli yang mengalungkan selendang di leher membuatku terkesiap malu. Maryam namanya.
Maafkan, aku tak pandai menari dan menyanyi sepertimu—waktu itu!” (hlm. 45)
Puisi ini bukan sekadar kenangan cinta; ia adalah potret pertemuan antara tubuh, tradisi, dan rasa malu yang membentuk subjektivitas kultural.
Dalam “Balik Bukit”, Udo menulis tentang memori sebagai sesuatu yang bisa didaur ulang:
“Aku cuma mau mendaur ulang ingatan-ingatan itu
sebelum kita—aku dan engkau—minggat darinya
meninggalkan segala kenangan di kota kecil kita.” (hlm. 112)
Ingatan di sini bukan sesuatu yang statis; ia bisa diolah, ditafsirkan ulang, dan dijadikan bahan untuk memahami jarak antara masa lalu dan masa kini.
Judul buku ini menemukan puncaknya dalam sajak “Kesibukan Membuat Sejarah”:
“Tapi, tidak ada sejarah yang tunggal.
Biarlah orang-orang menuliskan sejarah menurut versi masing-masing.
Ya, setiap generasi menuliskan sejarahnya sendiri.” (hlm. 150)
Ini adalah pernyataan kebudayaan yang tegas: menolak monopoli narasi. Sejarah bukan milik negara atau elite, tetapi hak setiap generasi.
Puncak estetika-politiknya muncul dalam “Sejarah Hari Ini”:
“Sejarah tak ditulis dengan tinta mesin,
melainkan oleh mereka yang bernyanyi
di gubuk reot penuh hujan dan harapan
Mengapa sejarah hari ini harus dibangun
dengan membunuh akar?” (hlm. 162–163)
Di sini, Udo mengaitkan sejarah dengan ekologi, memori, dan penderitaan. Sejarah yang menghapus akar—bahasa, tanah, dan ingatan—adalah sejarah yang kejam.
Benang Merah: Tiga Poros Kebudayaan
Dari ketiga buku ini, tampak tiga poros utama pemikiran kebudayaan Udo Z Karzi.
Pertama, ingatan sebagai praksis politik. Baik dalam novel maupun puisi, ingatan bukan romantisasi masa lalu, melainkan cara melawan lupa yang diproduksi kekuasaan.
Kedua, bahasa sebagai medan perlawanan. Minan Lela Sebambangan memperlihatkan bahwa mempertahankan bahasa daerah adalah mempertahankan cara melihat dunia.
Ketiga, sejarah dari bawah. Udo menolak sejarah tunggal; ia menulis sejarah yang bernyanyi dari gubuk, kebun kopi, kampus, dan kamar tidur.
Epilog: Sastra sebagai Rumah yang Terus Dibangun
Tiga karya terbaru Udo Z Karzi membentuk satu arsitektur kebudayaan: rumah yang dibangun dari ingatan, dipelihara oleh bahasa, dan terus direnovasi oleh sejarah. Ia tidak menawarkan jawaban final, melainkan ruang dialog—antara generasi, antara pusat dan pinggiran, antara manusia dan alam.
Dalam salah satu sajaknya, Udo seolah berpesan kepada kita semua: sejarah bukan hanya ditulis, tetapi dihidupi. Dan sastra, baginya, adalah cara paling jujur untuk melakukannya. []
____________________
Oleh: Kiky Rizkhi Aprillia AZ, pembaca sastra, praktisi pendidikan, tinggal Bandar Lampung.












