Jawa Barat

Wali Kota Bandung Buka Ruang Dialog Bersama Cipayung Plus, Dorong Mahasiswa Jadi Mitra Kritis Pemerintah

×

Wali Kota Bandung Buka Ruang Dialog Bersama Cipayung Plus, Dorong Mahasiswa Jadi Mitra Kritis Pemerintah

Sebarkan artikel ini
Wali Kota Bandung Buka Ruang Dialog Bersama Cipayung Plus, Dorong Mahasiswa Jadi Mitra Kritis Pemerintah
Kegiatan Coffee Night sekaligus forum dialog bersama Cipayung Plus Kota Bandung yang berlangsung di rooftop Atlantic City Hotel, Bandung, Selasa, 4 Agustus 2026. | Ist

Potensinews.id – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengajak organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus untuk terus terlibat dalam menjaga dan membangun Kota Bandung. Keterlibatan tersebut dapat dilakukan melalui kritik konstruktif, gagasan terukur, serta kerja bersama dengan pemerintah daerah.

Ajakan itu disampaikan Muhammad Farhan dalam kegiatan Coffee Night sekaligus forum dialog bersama Cipayung Plus Kota Bandung yang berlangsung di rooftop Atlantic City Hotel, Bandung, Selasa, 4 Agustus 2026.

Dalam suasana santai dan terbuka, Muhammad Farhan berdialog langsung dengan para pengurus organisasi mahasiswa. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi antara Pemerintah Kota Bandung dan kelompok mahasiswa yang selama ini aktif menyampaikan aspirasi serta melakukan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan.

“Tentunya mengajak mahasiswa untuk menempatkan diri sebagai mitra kritis pemerintah. Kritik tetap diperlukan, tetapi perlu disertai data, pilihan solusi, dan kesediaan untuk terlibat dalam penyelesaian masalah kota,” ujar Muhammad Farhan.

Baca Juga:  Mahasiswa FEB Unila Pilih Dialog, Bahas dan Dukung Program Pemerintah

Menurutnya, berbagai persoalan di Kota Bandung tidak dapat ditangani pemerintah secara sendiri. Partisipasi mahasiswa diperlukan, terutama dalam menjangkau kelompok muda, menyampaikan aspirasi masyarakat, mengawal pelayanan publik, serta membangun budaya diskusi yang sehat.

“Coffee Night tersebut juga menjadi kesempatan bagi pemerintah kota untuk mendengarkan secara langsung pandangan generasi muda. Format duduk bersama dipilih agar pembicaraan berlangsung lebih cair, setara, dan tidak dibatasi oleh suasana pertemuan formal,” tambahnya.

Sejumlah organisasi mahasiswa hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya HMI, SEMMI, HIMA Persis, IMM, KAMMI, dan PMKRI. Kehadiran berbagai organisasi dengan latar belakang berbeda tersebut menunjukkan pentingnya ruang dialog yang terbuka bagi seluruh kelompok mahasiswa di Kota Bandung.

Baca Juga:  Targetkan Kemandirian Ekonomi, Desa Sukamaju Ciamis Alokasikan Modal BUMDESA Rp214 Juta

Pemerintah Kota Bandung juga berharap komunikasi dengan Cipayung Plus tidak hanya dilakukan ketika muncul persoalan atau aksi penyampaian pendapat. Dialog perlu dibangun secara berkala agar aspirasi mahasiswa dapat diterima lebih awal dan pemerintah dapat menjelaskan kebijakan secara terbuka.

“Cipayung Plus juga diharapkan dapat menerjemahkan hasil diskusi ke dalam kegiatan yang nyata. Bentuknya dapat berupa forum kajian kebijakan, pendidikan politik bagi mahasiswa, pengawasan pelayanan publik, kegiatan sosial, serta program pemberdayaan masyarakat di tingkat kecamatan dan kelurahan,” tegas Muhammad Farhan.

Kegiatan Coffee Night tersebut diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Pemuda dan Olahraga. Acara berlangsung mulai pukul 18.30 hingga 22.00 WIB sebagai bagian dari Program Pengembangan Kapasitas Daya Saing Kepemudaan, khususnya pemberdayaan dan pengembangan organisasi kepemudaan tingkat kota.

Baca Juga:  Ketum Komunitas Jabar Unggul Soroti Risiko Wanprestasi Pemprov Jabar Terhadap Ratusan Kontraktor

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan terbuka. Sejumlah peserta menyimak diskusi, mencatat pokok pembicaraan, serta menyampaikan pandangan secara langsung.

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara jajaran Pemerintah Kota Bandung dan perwakilan organisasi mahasiswa.

“Coffee Night Cipayung Plus menjadi langkah awal untuk membangun pola hubungan yang lebih produktif antara pemerintah kota dan mahasiswa. Perbedaan pandangan tetap dimungkinkan, tetapi komunikasi perlu terus dijaga agar setiap gagasan dapat diarahkan bagi kepentingan masyarakat Kota Bandung,” tutup Muhammad Farhan.