Berita

Pemuda Katolik Lampung Ikuti Diklatsar Gelombang III di SPN Polda Lampung

×

Pemuda Katolik Lampung Ikuti Diklatsar Gelombang III di SPN Polda Lampung

Sebarkan artikel ini
Pemuda Katolik Lampung Ikuti Diklatsar Gelombang III di SPN Polda Lampung
Istimewa

Potensinews.id – Pemuda Katolik di Provinsi Lampung mengikuti Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Gelombang III yang digelar di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Lampung, Jumat, 16 Januari 2026. Kegiatan ini mengusung tema Ad Maiora Natus Sum (Aku dilahirkan untuk hal-hal yang lebih besar).

Diklatsar yang berlangsung selama tiga hari, 16–18 Januari 2026, diikuti oleh 81 peserta yang merupakan utusan dari berbagai gereja Katolik se-Paroki di kabupaten dan kota se-Provinsi Lampung. Pelatihan ini difokuskan pada pembekalan dasar tanggap bencana, aksi kemanusiaan, bela negara, serta konsolidasi organisasi.

Kegiatan tersebut dirancang untuk memperkuat kesiapsiagaan generasi muda Katolik dalam merespons berbagai potensi bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, dan banjir yang rawan terjadi di wilayah Lampung. Provinsi ini juga memiliki risiko besar apabila patahan Megathrust aktif.

Peserta memperoleh materi komprehensif, mulai dari mitigasi risiko bencana, teknik respons cepat di lapangan, hingga pemahaman bela negara. Selain itu, mereka juga dibekali keterampilan aksi kemanusiaan guna mendukung masyarakat terdampak bencana.

Baca Juga:  Hendrik Zulkarnain Didapuk Jadi Ketua DPP P3JI Sumbagsel Periode 2023-2028

Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Lampung, Valentinus Andi, menegaskan bahwa pelatihan ini bertujuan membentuk kader yang siap bertindak sesuai perannya.

“Pelatihan ini penting agar kader memiliki keterampilan dan mental siap aksi. Bukan sekadar teori, tetapi keterampilan nyata di lapangan,” ujar Valentinus.

Pemilihan SPN Polda Lampung sebagai lokasi kegiatan disebut sebagai bentuk kerja sama strategis antara Pemuda Katolik dan Polri. Selama pelatihan, peserta ditempa dengan kedisiplinan tinggi, mulai dari baris-berbaris, manajemen waktu, hingga sikap sigap dalam situasi darurat.

“Latihan cepat tanggap dalam penanganan musibah membutuhkan disiplin sebagai modal penting demi keselamatan masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Stefanus Asat Gusma, menegaskan bahwa organisasinya tidak berorientasi pada kekuatan massa secara kuantitas.

Baca Juga:  PFI Tegaskan Peran Penjaga Integritas, Soroti Kekerasan dan Pelanggaran HAKI Pewarta Foto

“Pemuda Katolik memilih fokus pada kualitas kader dan penguatan nilai kebangsaan,” jelas Stefanus.

Menurutnya, tantangan saat ini tidak lagi sebatas konflik fisik, melainkan disinformasi, polarisasi sosial, dan konflik identitas di ruang digital. Oleh karena itu, Pemuda Katolik membekali kader dengan kemampuan analisis sosial dan pemahaman kebijakan publik agar mampu berpikir kritis dan bertindak tepat.

Respons cepat terhadap bencana juga menjadi perhatian serius. Stefanus menyinggung pengalaman bencana di Aceh dan Sumatera Barat sebagai alarm bersama. Ia menekankan pentingnya konsolidasi organisasi secara cepat dan koordinasi nasional agar bantuan dapat langsung menyentuh masyarakat terdampak.

“Kehadiran pemuda harus nyata di tengah krisis kemanusiaan. Aksi kemanusiaan adalah wujud iman yang bekerja melalui solidaritas,” tegasnya.

Selain itu, Stefanus juga menyoroti pentingnya dialog lintas iman sebagai fondasi gerakan Pemuda Katolik. Keberagaman Indonesia dinilai sebagai kekuatan yang harus dirawat melalui perjumpaan dan komunikasi yang jujur.

Baca Juga:  Pajak Kendaraan Deadline 6 Desember, PI One Krakatau Dukung Perpanjangan Pemutihan

“Bangsa yang kuat lahir dari perjumpaan, bukan dari kecurigaan. Pemuda harus menjadi jembatan, bukan bahan bakar konflik,” tutup Stefanus.

Dukungan juga disampaikan Uskup Tanjungkarang, Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo. Menurutnya, kegiatan tersebut melatih pemuda menjadi pemimpin yang melayani dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas.

Uskup mengajak generasi muda untuk memahami bahwa nilai kemanusiaan mampu menyatukan berbagai latar belakang dalam aksi nyata. Pemuda yang aktif dalam pelayanan kemanusiaan dinilai dapat mencegah perpecahan sosial serta memperkuat solidaritas lintas komunitas.

Pelatihan ini tidak hanya membangun keterampilan teknis tanggap bencana, tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan, tanggung jawab sosial, dan komitmen Pemuda Katolik dalam memperkuat ketahanan masyarakat di tengah potensi krisis kemanusiaan.