Potensinews.id – Ketua Umum Aliansi Rakyat Mahasiswa Anak Daerah (ARMADA), Aris Tama, menyoroti fenomena kerentanan sosial di tengah masyarakat digital.
Menurutnya, meskipun teknologi menghubungkan banyak orang secara virtual, manusia modern justru kian rentan merasa sendirian akibat tekanan ekonomi dan tuntutan produktivitas yang menggerus kedalaman relasi antarmanusia.
“Banyak orang tampak kuat di luar, tetapi rapuh di dalam karena kehilangan support system yang sehat,” ujar Aris Tama di Jakarta, Senin, 2 Februari 2026.
Aris menilai situasi ini sebagai sebuah paradoks. Indonesia memiliki warisan sosial luhur bernama gotong royong, namun dalam praktiknya, nilai tersebut sering kali direduksi sebatas aktivitas seremonial atau kerja kolektif sesaat.
Padahal, gotong royong seharusnya dipahami sebagai sistem pendukung hidup manusia yang bersifat mendasar.
Menurutnya, manusia tidak bisa berdiri sendiri. Sejak lahir, pertumbuhan manusia bergantung pada relasi dalam keluarga, lingkungan, dan komunitas.
Dukungan emosional dan rasa aman adalah kebutuhan dasar yang tidak bisa digantikan oleh pencapaian material semata.
“Ketika relasi ini melemah, manusia mudah terjebak dalam kesepian, kelelahan mental, dan krisis makna,” tambahnya.
Sebagai solusi, Aris menawarkan konsep Lingkar Gotong Royong. Cara pandang ini menekankan bahwa gotong royong bukan sekadar tindakan membantu, melainkan sebuah jejaring relasi yang setara, timbal balik, dan berkelanjutan.
Lingkar ini mencakup beberapa lapisan:
*Lingkar Terdekat: Keluarga dan sahabat sebagai ruang aman tanpa penghakiman.
*Lingkar Komunitas: Tetangga, kelompok kerja, dan organisasi sosial.
*Lingkar Luas: Solidaritas sosial dan kebijakan publik yang berpihak pada kemanusiaan.
“Disebut lingkar karena relasi ini setara. Setiap orang berada dalam posisi yang sama: kadang memberi, dan di waktu lain menerima,” jelas Aris.
Lebih lanjut, Aris Tama berpendapat bahwa krisis kesehatan mental saat ini bukan hanya persoalan pribadi, melainkan gejala sosial. Kesepian kronis muncul karena hilangnya ruang aman untuk didengar. Lingkar Gotong Royong hadir menyediakan ruang tersebut melalui kehadiran manusia lain yang peduli.
Pengalaman Indonesia dalam menghadapi berbagai krisis membuktikan bahwa kekuatan utama bangsa terletak pada solidaritas warganya. Gotong royong terbukti menjadi mekanisme pertahanan pertama sebelum sistem formal hadir sepenuhnya.
Aris menegaskan bahwa tantangan ke depan adalah menjadikan gotong royong sebagai praktik sadar, bukan sekadar slogan budaya. Ia mendorong agar nilai ini diintegrasikan ke dalam keluarga, tempat kerja, hingga perumusan kebijakan publik sebagai investasi sosial jangka panjang.
“Menguatkan Lingkar Gotong Royong berarti menjaga martabat manusia. Di tengah zaman yang terfragmentasi, menghidupkan kembali tradisi ini adalah upaya kita merawat kemanusiaan itu sendiri,” pungkasnya.












