Opini

Menyoroti Kasus Siswa Bunuh Diri di Kabupaten Ngada NTT

×

Menyoroti Kasus Siswa Bunuh Diri di Kabupaten Ngada NTT

Sebarkan artikel ini
Menyoroti Kasus Siswa Bunuh Diri di Kabupaten Ngada NTT
Secarik kertas yang ditinggalkan korban untuk sang ibu, ditemukan di sekitar lokasi kejadian, di Desa Nenawea Kecamatan Jerebu’u, Ngada. Foto: Ist

Potensinews.id – Seandainya bukan harian Kompas yang mengangkat kasus ini, mungkin peristiwa ini berlalu begitu saja tanpa menarik perhatian publik.

Masalah ini jangan dilokalisir di salah satu kabupaten di NTT saja, namun harus diurai akar masalahnya agar bisa diselesaikan, karena persoalan seperti ini terjadi di seluruh Indonesia.

Kejadian bunuh diri bukan persoalan biasa. Keputusan bunuh diri dilakukan oleh orang yang menderita “depresi” yg salah satunya diakibatkan oleh tekanan hidup yg tidak memperoleh jalan keluar.

Apa yang dialami oleh YBS (10 thn) seorang siswa SD Kelas IV di Kabupaten Ngada NTT mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di pohon cengkeh, bukan keputusan sesaat dan tiba-tiba.

Ketika dia meminta uang sepuluh ribu rupiah kepada ibunya untuk membeli peralatan sekolah dan dijawab tidak ada, itu hanya “trigger” yang membuat YBS mengambil keputusan nekat.

Baca Juga:  Eksistensi Perlindungan Hak Ulayat dalam Hukum Adat

Berbagai kesulitan hidup yang dialami menyebabkan tekanan mental yang berakibat YBS putus asa karena tidak lagi melihat jalan keluar untuk melanjutkan hidup selanjutnya.

YBS memang hidup dalam kondisi miskin ekstrim, terlebih ibunya yang seorang janda harus menghidupi lima orang anak dengan sumber penghasilan tidak menentu.

Dari peristiwa tragis ini kita belajar. Seharusnya dilakukan pendataan cepat di semua daerah, jumlah keluarga (jumlah penduduk) yg hidup dalam kondisi miskin ekstrim, yaitu orang atau keluarga yang tidak bisa memenuhi kebutuhan minimalnya sehari-hari.

Lebih menyedihkan jika kita menyaksikan tempat tinggalnya. Saya pernah meneteskan air mata menyaksikan seorang yang jompo tidur pada alas tikar yang tidak layak, dalam rumah yang tidak lebih dari sebuah kandang hewan.

Saya spontan mengatakan kalau orang ini mati dalam kondisi seperti ini maka mulai dari tetangganya, Ketua RT nya, lurah, camat dan Kepala Daerahnya masuk neraka semua. Betapa tidak, keluarga miskin ekstrim bukan peristiwa mendadak.

Baca Juga:  Anggaran Pengawasan Fantastis DPRD Kota Metro: Alarm Bahaya Tata Kelola

Kesusahan mereka telah disaksikan sehari-hari oleh tetangganya, masyarakat sekitarnya, ketua RT-nya. Dan paling aneh kalau keluarga seperti ini tidak mendapatkan bantuan tunai langsung karena kesalahan data.

Dari kasus anak bunuh diri di Kabupaten Ngada adalah contoh tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan.

Bagi kita yang hidup di kota atau hidup dalam kondisi berkecukupan, rasanya tidak terjangkau nalar kalau ada orang mengakhiri hidup karena putus asa mencari uang Sepuluh ribu rupiah, uang yang jumlahnya jauh lebih kecil dari yang digunakan anak kita menikmati jajanan setiap hari.

Namun itulah kondisi nyata bagi mereka yg hidup di desa, yang berharap menyambung hidup dari hasil panen atau kerja serabutan, uang sepuluh ribu sangat berharga dan tentu dengan penghasilan yang sangat minim, mereka lebih mementingkan membeli bahan pokok untuk dimakan ketimbang membeli alat sekolah buat anaknya.

Baca Juga:  Dari Krakatau, Lampung Bangun Diplomasi dan Ekonomi Lewat Budaya

Mendata jumlah masyarakat miskin ekstrim adalah tugas mendesak dan secepatnya dituntaskan. Bedah rumah harus diprioritaskan, berikan bantuan langsung dari APBD dan jika masih mampu bekerja, beri mereka sumber penghasilan dengan bekerja sebagai petugas kebersihan, pekerja proyek fisik atau beri mereka modal untuk membuka usaha kecil di pasar atau pedagang gerobak.

Sekarang bukan saatnya ber “teori”. Mereka memerlukan uluran tangan dan kerja nyata, apalagi menolong orang miskin buat mengangkat harkat hidup nya merupakan “jargon kampanye” yang disuarakan oleh seluruh calon pejabat eksekutif dan legislatif.

Oleh: Andi Sofyan Hasdam, DPD RI Dapil KALTIM