Potensinews.id — Upaya Pemerintah Provinsi Lampung dalam menangani konflik antara manusia dan Gajah Sumatera di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) terus ditingkatkan. Dalam setahun terakhir, intensitas penanganan konflik dinilai semakin serius dan terarah, terutama di wilayah yang kerap menjadi titik rawan interaksi gajah dengan aktivitas warga.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Ir. Yanyan Ruchyansyah, yang akrab disapa Yanyan, beberapa waktu lalu. Ia menegaskan bahwa salah satu langkah strategis yang tengah didorong adalah pembangunan tanggul pengaman sepanjang 11 kilometer di Kecamatan Way Jepara, wilayah yang selama ini paling sering dilaporkan terjadi konflik manusia dan gajah.
Menurut Yanyan, Gubernur Lampung telah mengajukan proposal pembangunan tanggul tersebut dengan nilai anggaran sekitar Rp105 miliar kepada Menteri Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Pemerintah Provinsi Lampung, kata dia, akan terus melakukan tindak lanjut agar rencana tersebut dapat direalisasikan pada tahun ini.
Pembangunan tanggul pengaman ini bertujuan membatasi pergerakan gajah agar tidak keluar dari kawasan konservasi. Dengan demikian, potensi konflik dapat ditekan, sekaligus memberikan perlindungan bagi satwa liar serta menciptakan rasa aman bagi masyarakat yang tinggal di sekitar TNWK.
Yanyan menjelaskan, tanggul pengaman merupakan salah satu infrastruktur penting dalam strategi mitigasi konflik. Dengan adanya pembatas fisik yang memadai, risiko benturan antara gajah liar dan manusia diharapkan dapat diminimalkan, baik dari sisi keselamatan satwa maupun keselamatan warga.
Ia juga menekankan bahwa konflik manusia dan gajah memiliki karakteristik yang berbeda-beda di setiap wilayah. Oleh karena itu, pendekatan mitigasi tidak bisa disamaratakan. Di sepanjang batas kawasan, diperlukan desain solusi yang disesuaikan dengan tingkat dan jenis konflik yang terjadi.
“Ada wilayah yang memang harus dibangun tanggul pengaman, ada yang lebih tepat menggunakan pagar kejut listrik, dan ada pula yang cukup dengan pagar kawat biasa. Semua harus dirancang berdasarkan kondisi lapangan per kilometer,” jelasnya.
Dengan terbangunnya infrastruktur mitigasi konflik berupa tanggul sepanjang 11 kilometer tersebut, efektivitas patroli dan penjagaan kawasan diharapkan semakin meningkat. Selain itu, upaya ini juga diharapkan mampu memperkuat pengamanan habitat gajah di Taman Nasional Way Kambas.
Lebih jauh, pembangunan tanggul ini diharapkan mendorong terbangunnya kolaborasi yang lebih kuat antara pengelola kawasan konservasi dan masyarakat desa penyangga. Sinergi tersebut dinilai penting agar frekuensi konflik manusia dan gajah dapat terus ditekan secara berkelanjutan.
Yanyan mengingatkan bahwa keterbatasan anggaran masih menjadi tantangan di semua level pemerintahan. Oleh sebab itu, diperlukan keseriusan dan percepatan tindak lanjut, sekaligus upaya bersama untuk mencari sumber pembiayaan alternatif guna mendukung pengamanan batas taman nasional secara jangka panjang dan permanen.
“Kita semua harus bisa mencari sumber pembiayaan bersama agar upaya pengamanan kawasan dan konservasi gajah dapat berjalan seimbang. Mudah-mudahan semua pihak dapat memberikan dukungan,” pungkasnya.












