Potensinews.id – Kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur) secara nasional belum berdampak signifikan terhadap lonjakan tarif tiket penerbangan di Kota Palembang.
Hingga saat ini, mayoritas maskapai penerbangan terpantau masih menahan harga meski beban operasional terus merangkak naik.
Ketua DPD Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Sumatera Selatan, Ir. Mgs. Moh. Isnaini F, MT (Cek Evad), mengungkapkan bahwa sejauh ini baru Garuda Indonesia yang telah melakukan penyesuaian tarif dengan kenaikan sekitar 20 persen.
“Maskapai lain seperti Citilink, Lion Air Group, dan Pelita Air masih menunggu instruksi manajemen pusat. Meskipun ada usulan kenaikan hingga 50 persen, pemerintah memberikan batas maksimal di angka 30 persen,” ujar Cek Evad, Senin, 13 April 2026.
Cek Evad menjelaskan, sikap hati-hati maskapai dalam menaikkan tarif disebabkan oleh karakter pasar di Palembang yang didominasi oleh penumpang perjalanan bisnis, urusan keluarga, dan keperluan administratif.
Berbeda dengan destinasi wisata murni, mobilitas di Palembang cenderung stabil namun sangat sensitif terhadap perubahan harga.
“Maskapai harus mempertimbangkan daya beli. Jika kenaikan terlalu drastis, dikhawatirkan akan terjadi penurunan jumlah penumpang secara signifikan,” jelasnya.
Meski demikian, ia memprediksi penyesuaian harga tiket hanya tinggal menunggu waktu. Sebagai solusi, ASPPI mendorong pemerintah untuk memberikan kebijakan strategis, seperti relaksasi pajak pada reservasi tiket guna menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.
Di sisi lain, tingginya mobilitas masyarakat pada rute gemuk seperti Jakarta–Palembang tetap memberikan dampak positif bagi ekonomi daerah. Sektor perhotelan, kuliner, hingga jasa transportasi lokal terus bergeliat seiring stabilnya arus kedatangan penumpang ke Sumatera Selatan.
Menurut Cek Evad, aktivitas pemerintahan dan bisnis menjadi motor utama penggerak sektor pariwisata di Sumsel. Ia pun mengajak pelaku usaha pariwisata untuk tetap optimis dan terus meningkatkan layanan.
“Setiap kunjungan ke Palembang, apa pun tujuannya, pasti memberikan kontribusi ekonomi. Kita harus mengoptimalkan potensi lokal dan akses transportasi darat sebagai alternatif agar pariwisata daerah tetap berkembang,” pungkasnya.












