Potensinews.id – Universitas Lampung (Unila) dan Universitas Tidar (Untidar) secara resmi menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) tentang pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi. Penandatanganan berlangsung di ruang sidang utama kampus setempat, Kamis, 22 Januari 2026.
Penandatanganan MoU ini menjadi tonggak penting penguatan kolaborasi antardua perguruan tinggi negeri, khususnya dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pimpinan dari Unila dan Untidar sebagai wujud komitmen bersama membangun sinergi berkelanjutan.
MoU ditandatangani langsung oleh Rektor Unila, Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng., dan Rektor Universitas Tidar, Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si. Kesepakatan kerja sama ini berlaku selama lima tahun dan terbuka untuk diperpanjang sesuai kebutuhan dan kesepakatan kedua belah pihak.
Dalam sambutannya, Prof. Lusmeilia Afriani menegaskan bahwa MoU ini merupakan landasan strategis dalam meningkatkan mutu tata kelola dan akademik, sekaligus memperkuat kontribusi nyata perguruan tinggi bagi masyarakat.
Menurutnya, kerja sama tersebut tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, melainkan harus diwujudkan dalam program konkret yang memberikan dampak langsung bagi dosen, mahasiswa, dan masyarakat luas. Unila, kata dia, siap berbagi praktik baik sekaligus belajar bersama Untidar dalam semangat kolaborasi yang setara.
Lebih lanjut, implementasi MoU akan diturunkan ke dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan Implementation Arrangement (IA) yang lebih spesifik. Fokus kerja sama mencakup pengelolaan data, penguatan sumber daya manusia, hingga pengembangan dan pemberdayaan mahasiswa.
Sementara itu, Rektor Untidar Prof. Sugiyarto menyampaikan bahwa penandatanganan MoU ini memiliki makna emosional dan historis bagi pihaknya. Kunjungan Untidar ke Unila berawal dari niat silaturahmi sekaligus memberikan penghormatan kepada almarhum Prof. John Hendri, tokoh Unila yang pernah menjabat sebagai Pelaksana Tugas Rektor Untidar pada masa krisis kepemimpinan tahun 2018.
Ia mengungkapkan, dari niat silaturahmi dan takziah tersebut, terbangun momentum yang lebih besar berupa kerja sama strategis antara dua perguruan tinggi. Bagi Untidar yang resmi beralih status menjadi perguruan tinggi negeri pada 2014, kerja sama ini menjadi ruang pembelajaran penting dalam fase pertumbuhan institusi.
Prof. Sugiyarto menambahkan, Untidar sangat terbuka untuk belajar dari Unila, khususnya dalam pengelolaan data dan informasi, tata kelola Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD Dikti), serta pengembangan prestasi dan aktivitas kemahasiswaan.
Melalui MoU ini, Unila dan Untidar menargetkan berbagai luaran nyata, mulai dari peningkatan kualitas pembelajaran melalui pertukaran praktik baik, kolaborasi riset yang relevan dengan pembangunan daerah dan nasional, hingga penguatan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan.
Selain itu, kerja sama ini juga diarahkan untuk mendorong prestasi serta pemberdayaan mahasiswa melalui program kemahasiswaan bersama. Dampaknya diharapkan tidak hanya dirasakan oleh sivitas akademika kedua kampus, tetapi juga oleh masyarakat luas melalui program pengabdian kepada masyarakat yang lebih terarah, berbasis riset, dan berkelanjutan.
Penandatanganan MoU oleh kedua rektor menutup rangkaian kegiatan, sekaligus menandai langkah baru kolaborasi strategis Unila dan Untidar dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kemajuan bangsa Indonesia.












