Sulawesi Utara

Listrik Sangihe Sering Padam, PLN Petta Ungkap Kendala Sinkronisasi Mesin Baru

×

Listrik Sangihe Sering Padam, PLN Petta Ungkap Kendala Sinkronisasi Mesin Baru

Sebarkan artikel ini
Listrik Sangihe Sering Padam, PLN Petta Ungkap Kendala Sinkronisasi Mesin Baru
Manajer PLN ULP Petta, Henry Nugroho.

Potensinews.id – Masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe kembali mengeluhkan kinerja PT PLN (Persero) akibat pemadaman listrik yang masih kerap terjadi.

Warga menilai pemadaman tersebut sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, terlebih setelah adanya informasi pendatangan mesin baru yang diharapkan menjadi solusi krisis listrik.

Menanggapi keluhan tersebut, Manajer PLN ULP Petta, Henry Nugroho, menjelaskan bahwa saat ini mesin baru tersebut masih dalam tahapan penyesuaian atau adaptasi sistem.

“Mesin baru yang datang harus melewati beberapa tahapan. Pertama adalah penyesuaian beban yang ada di Sangihe, kedua mesin tersebut harus diparalelkan dengan mesin lama agar frekuensi bebannya sinkron,” ujar Henry saat dikonfirmasi, Rabu, 15 April 2026.

Henry memaparkan bahwa sistem kelistrikan di Sangihe bekerja secara terintegrasi. Meskipun uji ketahanan (reliability test) mesin baru berjalan lancar, kendala pada mesin lama tetap akan berdampak pada performa mesin baru.

Baca Juga:  Lapas Tahuna Sematkan Tanda Kenaikan Pangkat, Dorong Pegawai Tingkatkan Kinerja

“Mesin lama dan baru ini ibarat satu perasaan dan sefrekuensi. Jika mesin lama mengalami gangguan, otomatis mesin baru juga akan merasakan efeknya. Hal inilah yang memicu proteksi sistem sehingga terjadi pemadaman demi menjaga keamanan perangkat,” jelasnya.

Selain kendala teknis pada pembangkit, Henry menyebut faktor eksternal atau gangguan jaringan distribusi masih menjadi penyebab dominan. Gangguan alam seperti pohon tumbang serta gangguan hewan seperti ular dan kelelawar sering memicu proteksi otomatis pada trafo.

“Kami sadar masyarakat mungkin jenuh dengan alasan ini, namun faktor alam itu nyata. Meskipun cuaca bagus, pohon tumbang atau hewan yang menyentuh jaringan akan membuat mesin mematikan daya secara otomatis untuk proteksi,” tambahnya.

Baca Juga:  Satlantas Polres Kepulauan Sangihe Gencar Razia Knalpot Brong

Terkait keresahan warga soal biaya tagihan saat pemadaman, Henry menegaskan bahwa masyarakat hanya membayar listrik yang dikonsumsi melalui kWh meter.

“Jika listrik padam selama delapan jam, maka yang terhitung hanya penggunaan selama 16 jam sisanya. Masyarakat tidak membayar full saat listrik mati, karena yang dibayarkan adalah apa yang masuk ke meteran,” tandas Henry.