Opini

Diplomasi Indonesia Lemah ?

×

Diplomasi Indonesia Lemah ?

Sebarkan artikel ini
Diplomasi Indonesia Lemah ?
Ilustrasi. | Ist

Potensinews.id – PEMERINTAH Republik Indonesia patut mencontoh langkah tegas delapan negara Barat yang memanggil utusan besar Tel Aviv setelah aktivis kemanusiaan dari negara mereka diduga mengalami intimidasi dan pelecehan hak asasi manusia.

Italia, Prancis, Kanada, Belgia, Belanda, Inggris Raya, Portugal, dan Spanyol menunjukkan bahwa kehormatan warga negara adalah harga mati.

Mereka tidak memilih diam ketika relawan kemanusiaan diperlakukan secara represif dalam misi menuju Gaza.

Gelombang protes diplomatik itu muncul setelah beredarnya video yang memperlihatkan perlakuan buruk aparat Israel terhadap para aktivis internasional.

Rekaman tersebut bahkan disebarluaskan oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, dan memicu kecaman luas dunia internasional.

Baca Juga:  MK Perintahkan PSU, Momentum Pemerintah Pusat dan Daerah Buktikan Komitmen Berdemokrasi

Indonesia semestinya memiliki keberanian diplomatik yang sama, terlebih terdapat sembilan warga negara Indonesia, termasuk wartawan asal Lampung, yang dilaporkan ditangkap saat mengikuti misi kemanusiaan internasional menuju Gaza.

Persoalan ini bukan sekadar urusan individu, melainkan menyangkut martabat bangsa dan kewibawaan negara.

Negara memiliki kewajiban konstitusional melindungi setiap warga negaranya di mana pun berada.

Jika negara-negara lain berani meminta pertanggungjawaban resmi demi kehormatan rakyatnya, maka Indonesia juga seharusnya tidak ragu mengambil langkah diplomatik tegas terhadap perwakilan Tel Aviv.

Indonesia selama ini dikenal konsisten mendukung perjuangan Palestina dan menolak segala bentuk penjajahan.

Namun dukungan moral akan kehilangan makna apabila negara terlihat lemah ketika warga negaranya sendiri mengalami persoalan serius di tingkat internasional.

Baca Juga:  Anggota DPRD Mesuji Menguji Etika dan Normatif Sulpakar

Diplomasi yang bermartabat bukan diplomasi yang keras tanpa arah, melainkan diplomasi yang berani membela kehormatan bangsa dan keselamatan rakyatnya.

Sebab bangsa besar bukan bangsa yang banyak berbicara tentang kemanusiaan, tetapi bangsa yang hadir melindungi rakyatnya ketika menghadapi ketidakadilan dunia.

Oleh: Junaidi Ismail, S.H. | Ketum Poros Wartawan Lampung