Potensinews.id – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) menggelar pelatihan pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) berbasis limbah agroforestri serta manajemen usaha dan pemasaran produk bagi anggota Gapoktanhut Maju Lestari di kawasan Tahura Wan Abdul Rachman, Lampung.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program PkM bertajuk “Penerapan Teknologi Tepat Guna Pengolahan Minyak Atsiri Pala pada Gapoktanhut Maju Lestari, Tahura Wan Abdul Rachman, Lampung”.
Program ini didanai melalui Hibah PkM BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, berdasarkan No. Kontrak 1415j/DST/IT9.2.1/PM.01.03/2026.
Dalam pelaksanaannya, Tim PkM bersinergi dengan UPTD Tahura Wan Abdul Rachman sebagai lembaga yang menaungi Gapoktanhut Maju Lestari.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pendampingan untuk mengoptimalkan pemanfaatan komoditas pala sekaligus meningkatkan kapasitas kelompok dalam mengelola hasil agroforestri secara berkelanjutan.
Selama ini, pengolahan pala tidak hanya menghasilkan produk utama berupa minyak atsiri dan serbuk pala, tetapi juga berpotensi menghasilkan limbah organik, baik dalam bentuk cair maupun padat.
Melihat potensi tersebut, limbah hasil agroforestri diarahkan agar tidak hanya menjadi residu, tetapi dapat diolah kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Salah satunya melalui pembuatan Pupuk Organik Cair (POC). Dalam pelatihan ini, anggota Gapoktanhut Maju Lestari mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dalam memanfaatkan limbah agroforestri sebagai bahan baku pupuk organik.
“Selain limbah penyulingan, kita juga bisa membuat POC dan kompos dari sampah rumah tangga,” ujar Yossi Dharma selaku pemateri, Kamis (20/8/2026).
Pemanfaatan limbah tersebut diharapkan dapat mendukung penerapan konsep zero waste dalam aktivitas produksi kelompok. Limbah yang sebelumnya berpotensi terbuang dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan budidaya tanaman.
Selain mengurangi limbah, penggunaan POC juga diharapkan mampu meningkatkan kemandirian anggota kelompok dalam penyediaan pupuk, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Dengan demikian, terbentuk siklus produksi agroforestri yang lebih efisien, ekonomis dan ramah lingkungan.
Tak hanya fokus pada aspek produksi, Tim PkM juga memberikan pelatihan mengenai manajemen usaha dan pemasaran produk. Anggota Gapoktanhut Maju Lestari dibekali pemahaman mengenai pengelolaan usaha secara terstruktur, mulai dari pencatatan produksi, pengelolaan produk hingga penyusunan strategi pemasaran.
“Pemasaran lokal memiliki potensi yang besar. Cukup dengan WhatsApp Business, kita juga bisa memasarkan produk kita kepada konsumen,” kata Rio Ardiansyah Murda, narasumber sekaligus dosen Rekayasa Kehutanan ITERA.
Menurutnya, pemanfaatan platform digital dapat menjadi salah satu langkah sederhana bagi kelompok dalam memperluas jangkauan pemasaran produk agroforestri.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, program PkM tidak hanya diarahkan pada penerapan teknologi pengolahan pala, tetapi juga membangun ekosistem usaha agroforestri dari hulu hingga hilir.
Pemanfaatan limbah menjadi POC memperkuat aspek keberlanjutan produksi, sementara peningkatan kemampuan manajemen dan pemasaran diharapkan dapat memperkuat kemandirian ekonomi kelompok.
Ke depan, anggota Gapoktanhut Maju Lestari diharapkan mampu mengintegrasikan teknologi pengolahan, pemanfaatan limbah, manajemen usaha serta strategi pemasaran dalam satu sistem produksi yang berkelanjutan.
Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas pala, memperluas pasar produk agroforestri, meningkatkan kemandirian kelompok, sekaligus mendukung pengelolaan kawasan Tahura Wan Abdul Rachman yang produktif dan berwawasan lingkungan.












