Artikel

Kolaborasi Ayah dan Ibu Jadi Kunci Tumbuh Kembang Anak di Usia Emas

×

Kolaborasi Ayah dan Ibu Jadi Kunci Tumbuh Kembang Anak di Usia Emas

Sebarkan artikel ini
Kolaborasi Ayah dan Ibu Jadi Kunci Tumbuh Kembang Anak di Usia Emas
Dosen STAI Ibnu Rusyd Kotabumi, Halen Dwistia, M.Pd., menekankan pentingnya kolaborasi ayah dan ibu serta sinergi dengan guru PAUD dalam mendukung tumbuh kembang, pembentukan karakter, dan pengembangan potensi anak sejak usia dini. (Foto: Istimewa)

Potensinews.id — Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter, kecerdasan, serta kemampuan sosial dan emosional anak. Namun, keberhasilan pendidikan pada fase ini tidak hanya bertumpu pada peran guru di sekolah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif ayah dan ibu dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Dosen STAI Ibnu Rusyd Kotabumi, Halen Dwistia, M.Pd., mengatakan masa usia dini atau golden age merupakan periode penting yang sangat menentukan perkembangan anak. Pada fase tersebut, perkembangan otak dan pembentukan karakter berlangsung sangat pesat.

“Anak membutuhkan lingkungan yang penuh kasih sayang, rasa aman, dan dukungan dari orang-orang terdekat agar dapat tumbuh sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Tumbuh kembang anak merupakan hasil dari kolaborasi dan kerja sama yang baik antara kedua orang tua,” ujar Halen, Senin (6/7/2026).

Menurutnya, ayah dan ibu perlu memahami bahwa setiap anak memiliki karakter, potensi, serta tahapan perkembangan yang berbeda. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menjadikan kemampuan anak lain sebagai tolok ukur perkembangan buah hatinya.

Baca Juga:  SIKAMBARA–Lembah Hijau Siap Berkolaborasi, Wacanakan Nobar Sepak Bola dan Pembinaan SSB di Lampung

Ia menilai, masih ada orang tua yang tanpa disadari membandingkan kemampuan anak dengan teman sebayanya. Misalnya, menuntut anak lebih cepat membaca, menulis, atau berhitung.

Padahal, setiap anak memiliki waktu belajar, minat, dan cara tersendiri dalam memahami sesuatu.

“Setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Ada yang lebih mudah mengekspresikan diri melalui gambar dan kegiatan seni, ada pula yang lebih senang bergerak aktif atau bercerita. Perbedaan tersebut bukanlah kekurangan, tetapi potensi yang harus dihargai dan dikembangkan,” jelasnya.

Peran Ayah dan Ibu Tak Bisa Dipisahkan

Halen menekankan, keterlibatan kedua orang tua dapat dimulai melalui aktivitas sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ayah, misalnya, dapat meluangkan waktu membacakan cerita sebelum anak tidur. Sementara ibu dapat mendampingi anak bermain permainan edukatif atau mengajak berbincang mengenai aktivitasnya di sekolah.

Namun, peran mendampingi anak tidak harus dibedakan secara kaku antara ayah dan ibu. Keduanya dapat saling berbagi peran dan hadir secara aktif sesuai kondisi keluarga.

Baca Juga:  PNM dan Pemkab Way Kanan Jalin Kolaborasi Strategis Dorong Kemandirian Ekonomi Masyarakat

Kolaborasi juga dapat diwujudkan dengan membangun kebiasaan positif sejak dini, seperti mengajarkan anak merapikan mainan setelah digunakan, membiasakan mengucapkan kata “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih”, hingga melatih anak menyampaikan pendapat dengan santun.

“Ketika ayah dan ibu memberikan teladan yang sama dalam bersikap dan berkomunikasi, anak akan lebih mudah memahami nilai-nilai yang diajarkan. Pendidikan karakter sesungguhnya dimulai dari rumah melalui keteladanan orang tua,” katanya.

Orang Tua dan Guru Harus Berjalan Bersama

Selain keharmonisan pola asuh di rumah, komunikasi antara orang tua dan guru PAUD juga dinilai memiliki peran penting.

Dengan saling bertukar informasi mengenai kebiasaan, minat, potensi, maupun tantangan yang dihadapi anak, orang tua dan guru dapat menentukan pola pendampingan yang lebih tepat.

Sinergi tersebut juga memungkinkan perkembangan anak dipantau secara lebih menyeluruh, baik ketika berada di lingkungan sekolah maupun di rumah.

Baca Juga:  Film Yakin Nikah Tayang 9 Oktober 2025, Angkat Isu Tekanan Nikah Dini

Halen mengingatkan, keberhasilan pendidikan anak usia dini tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, dan berhitung.

Lebih dari itu, pendidikan usia dini diharapkan mampu membentuk anak menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, mampu mengelola emosi, memiliki rasa ingin tahu, serta dapat berinteraksi dengan baik di lingkungan sekitarnya.

Ia berharap semakin banyak orang tua memahami bahwa setiap anak merupakan individu unik dengan potensi yang berbeda. Kesabaran, kasih sayang, dan pendampingan yang tepat menjadi bagian penting untuk memberikan kesempatan kepada anak berkembang sesuai tahapan usianya.

“Sinergi antara orang tua dan sekolah menjadi modal utama dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, berakhlak mulia, dan siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan,” pungkasnya.