Berita

Jelang Muktamar NU ke-35, FK3I Dorong Penguatan Peran Kiai Kampung

×

Jelang Muktamar NU ke-35, FK3I Dorong Penguatan Peran Kiai Kampung

Sebarkan artikel ini
Jelang Muktamar NU ke-35, FK3I Dorong Penguatan Peran Kiai Kampung
Ketua Umum FK3I Gus Maftuh bersama Dr. H. Abdurrochman saat bersilaturahmi di Surabaya. (Foto: Istimewa)

Potensinews.id – Menjelang pelaksanaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026, sejumlah tokoh keagamaan menggelar pertemuan strategis di Crown Prince Hotel Surabaya City Center, Kamis (27/8/2026).

Pertemuan tersebut mempertemukan Ketua Umum Forum Komunikasi Kiai Kampung Indonesia (FK3I), Gus Maftuh, dengan Dr. H. Abdurrochman, M.Ed., Pengasuh Mahasantri Rumah Ngaji Bina Cendekia Luhur.

Silaturahmi berlangsung dalam suasana hangat. Keduanya bertukar gagasan mengenai penguatan dakwah, pendidikan, serta pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat di tingkat akar rumput.

Sejumlah agenda strategis turut dibahas, di antaranya peluang kolaborasi pengabdian masyarakat, penguatan pendidikan, serta pemetaan peluang dan tantangan yang dihadapi Kiai Kampung di tengah perkembangan zaman.

Kiai Kampung Punya Peran Strategis

Baca Juga:  Dorong Ketahanan Keluarga, SIGER Ibu Bahagia Berdayakan Perempuan di Lampung

Kiai Kampung memiliki posisi penting karena berada dekat dengan kehidupan masyarakat. Selain menjadi rujukan dalam persoalan keagamaan, mereka juga kerap terlibat dalam berbagai persoalan sosial, pendidikan, hingga pemberdayaan masyarakat.

Karena itu, sinergi antara FK3I dan Rumah Ngaji Bina Cendekia Luhur dinilai dapat menjadi langkah awal untuk menghadirkan program pengabdian masyarakat yang lebih konkret, terarah, dan berkelanjutan.

Kolaborasi tersebut berpotensi dikembangkan melalui sejumlah bidang, terutama pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta peningkatan kapasitas dai dan Kiai Kampung.

Penguatan Pendidikan di Tengah Perubahan Generasi

Aspek pendidikan juga menjadi salah satu perhatian dalam pertemuan tersebut. Perubahan karakter generasi muda yang berlangsung seiring perkembangan teknologi menuntut pendekatan pendidikan yang adaptif, namun tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman.

Dalam kondisi tersebut, Kiai Kampung memiliki peran strategis sebagai pendidik sekaligus pembimbing masyarakat. Kedekatan dengan warga menjadi modal penting untuk membentuk generasi yang memiliki pengetahuan, karakter, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Baca Juga:  DPW PAN Lampung Gelar Halal Bilalal Undang Semua Fraksi

Dakwah di Era Digital

Perkembangan teknologi digital juga dinilai menghadirkan peluang baru bagi penguatan dakwah. Media sosial dan berbagai platform digital dapat dimanfaatkan Kiai Kampung untuk memperluas jangkauan dakwah, terutama dalam menjangkau generasi muda.

Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan. Arus informasi yang cepat, perubahan sosial, serta beragam persoalan masyarakat membutuhkan pola dakwah yang komunikatif, moderat, adaptif, sekaligus mampu memberikan solusi.

Kiai Kampung dituntut tetap menjaga tradisi dan nilai-nilai keislaman, sembari mampu membaca perkembangan zaman serta menjawab kebutuhan masyarakat secara kontekstual.

Dari Silaturahmi Menuju Kolaborasi Nyata

Pertemuan di Surabaya tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara FK3I dan Rumah Ngaji Bina Cendekia Luhur. Silaturahmi tidak hanya menjadi ruang bertukar gagasan, tetapi juga diharapkan berlanjut pada program kolaborasi konkret di bidang pendidikan dan pengabdian masyarakat.

Baca Juga:  Nilam Resmi Tutup Gubernur Cup Cricket 2025, Optimistis Cricket Lampung Terus Berkembang

Upaya tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam memperkuat peran Kiai Kampung sebagai garda terdepan dakwah, pendidik masyarakat, sekaligus penggerak kemaslahatan di tingkat akar rumput.

Di tengah perubahan zaman yang semakin dinamis, keberadaan Kiai Kampung dinilai tetap memiliki arti penting. Dari masjid, majelis ilmu, rumah-rumah ngaji, hingga berbagai ruang sosial masyarakat, nilai-nilai keislaman terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dari Surabaya, silaturahmi diharapkan berkembang menjadi sinergi, sementara gagasan yang dibahas dapat diwujudkan menjadi gerakan nyata untuk umat dan masyarakat.