Potensinews.id — Pengamatan hilal awal Zulhijah 1447 Hijriah di Provinsi Lampung bukan sekadar agenda rutin keagamaan. Momentum ini menjadi simbol kolaborasi lintas lembaga dalam menjaga kepastian kalender Islam sekaligus memperkuat persatuan umat di tengah perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah.
Tim Rukyatul Hilal DPW LDII Lampung turut ambil bagian dalam pemantauan hilal yang digelar di Institut Teknologi Sumatera, Minggu (17/5/2026). Kegiatan tersebut melibatkan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, BMKG, Pengadilan Agama Kalianda, kalangan akademisi, hingga organisasi kemasyarakatan Islam.
LDII bersama berbagai institusi melakukan observasi astronomi guna memastikan posisi hilal awal Zulhijah, yang menjadi dasar penetapan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.
Posisi Hilal Lampung Penuhi Kriteria MABIMS
Kabid Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Lampung, Ahmad Fikri Yulian menjelaskan, secara astronomis posisi hilal telah memenuhi standar imkanur rukyat yang digunakan negara-negara anggota MABIMS.
“Posisi hilal diperkirakan pada ketinggian 5 derajat dengan sudut elongasi bulan terhadap matahari mencapai 10 derajat 13 menit,” ujarnya.
Menurut Ahmad, angka tersebut telah melampaui batas minimal kriteria MABIMS, yakni tinggi hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Meski demikian, keputusan resmi awal Zulhijah tetap menunggu hasil sidang isbat Kementerian Agama RI.
“Penetapan resmi 1 Zulhijah 1447 H menunggu keputusan sidang isbat berdasarkan hasil hisab dan rukyatul hilal dari berbagai titik pemantauan di Indonesia,” katanya.
Ia menambahkan, rukyatul hilal merupakan agenda nasional yang dilakukan serentak untuk memberikan kepastian kepada masyarakat di tengah perbedaan pendekatan penanggalan Hijriah.
LDII Lampung Ajak Warga Hormati Keputusan Pemerintah
Di tengah potensi perbedaan penetapan awal bulan Hijriah, Sekretaris DPW LDII Lampung, Ahmat Nurdin mengajak masyarakat mengedepankan ukhuwah Islamiyah dan menghormati keputusan pemerintah.
“Kedepankan kebersamaan dan sikap saling menghormati,” ujarnya.
Menurut Nurdin, perbedaan metode hisab dan rukyat merupakan dinamika yang sudah lama dikenal dalam tradisi Islam. Karena itu, ia menilai menjaga kerukunan sosial jauh lebih penting dibanding memperbesar perbedaan.
“Mari jaga ukhuwah demi terciptanya suasana yang rukun dan damai di tengah masyarakat,” jelasnya.
Kolaborasi Astronomi dan Keagamaan Menguat di Lampung
Pelibatan perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Sumatera menunjukkan penguatan pendekatan ilmiah dalam proses rukyatul hilal di Indonesia. Sinergi antara akademisi, BMKG, Kemenag, dan ormas Islam dinilai penting untuk meningkatkan akurasi observasi astronomi sekaligus memperkuat legitimasi keputusan pemerintah.
Lampung sendiri menjadi salah satu titik strategis pemantauan hilal di wilayah Sumatera karena kondisi geografisnya yang mendukung observasi ufuk barat saat matahari terbenam.
Kegiatan ini juga memperlihatkan bagaimana organisasi masyarakat seperti LDII berperan aktif mendukung stabilitas sosial-keagamaan menjelang Idul Adha 2026, terutama dalam membangun literasi publik terkait perbedaan penentuan kalender Hijriah.
Dampak dan Nilai Strategis
Pengamatan hilal yang melibatkan banyak pihak memiliki sejumlah dampak penting, antara lain:
Memberikan kepastian waktu pelaksanaan Idul Adha 1447 H.
Mengurangi potensi perbedaan informasi di masyarakat.
Memperkuat moderasi beragama dan toleransi internal umat Islam.
Mendorong kolaborasi sains dan keagamaan di daerah.
Menjadi sarana edukasi publik terkait astronomi Islam modern.












