Potensinews.id — Mahasantri Bina Cendekia Luhur Lampung, Abdurrohim, berhasil menjadi presenter dalam ajang The 4th International Conference on Islam and Education (ICONIE) 2026 yang digelar oleh UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan pada 18–19 Mei 2026 di Hotel Howard Johnson, Kota Pekalongan.
Konferensi internasional tersebut mengusung tema “Islamic Education for a Sustainable Future: Digital Transformation, Cultural Wisdom, and Harmonious Living.” Kegiatan berlangsung dalam bentuk seminar, panel diskusi, dan presentasi makalah yang diikuti akademisi, peneliti, dan praktisi pendidikan dari berbagai negara.
Dalam forum akademik internasional itu, Abdurrohim mempresentasikan karya ilmiah berjudul “The Challenges of Mahasantri Bina Cendekia Luhur, South Lampung, in Navigating the Society 5.0 Era.”
Melalui karya tersebut, Abdurrohim menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi kalangan mahasantri dalam menghadapi dinamika global di era Society 5.0, mulai dari adaptasi teknologi digital, penguatan integritas moral, hingga kesiapan sumber daya manusia yang berdaya saing tanpa kehilangan identitas nilai-nilai keislaman.
Keikutsertaan Abdurrohim sebagai presenter tidak hanya menjadi representasi Mahasantri Bina Cendekia Luhur, tetapi juga membawa nama baik civitas akademika lembaga pendidikan tersebut di forum internasional.
Konferensi ini menghadirkan sejumlah keynote speaker dari berbagai institusi nasional dan internasional, di antaranya Dr. Rudholf Wirawan, Ph.D dari Bima Nexus Australia, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag selaku Rektor UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Le Thuy Ngoc dari Ngoc English Centre Vietnam, hingga Prof. Suzanner Choo Shen Li dari National Institute of Education (NIE) Singapore.
Selain itu, hadir pula Dr. Itje Chodidjah, M.A selaku Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Tatang Muttaqin, S.Sos., M.Ed., Ph.D, serta Arif Satria.
Momentum tersebut menjadi pesan penting bahwa mahasantri Indonesia dituntut mampu menjawab tantangan zaman dengan membangun kapasitas intelektual, spiritual, dan digital secara seimbang, sekaligus mengambil peran strategis dalam menciptakan peradaban masa depan yang berkemajuan, humanis, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasantri tidak hanya mampu berkiprah di tingkat nasional, tetapi juga siap tampil, berkontribusi, dan bersaing dalam forum internasional demi kemajuan pendidikan Islam di era global.












