Potensinews.id — Dalam rentang dua hari, plume Gunung Anak Krakatau meluas hingga menutup puncak dan sebagian tubuh gunung. Perubahan tersebut terekam dalam perbandingan citra satelit Sentinel-2 yang dianalisis Kelompok Riset Unila Robotika dan Otomasi (URO) Fakultas Teknik Universitas Lampung.
Analisis dilakukan Dr.-Ing. Ardian Ulvan bersama dua mahasiswa Teknik Elektro Unila, Cinda Kamilah Harahap dan Daniel Dermawansyah Putra Saragih. Tim membandingkan citra Sentinel-2 Level-2A tanggal 3 September 2026 dengan citra 5 September 2026. Selain itu, tim menambahkan data satelit cuaca Himawari-9 untuk melihat pergerakan abu di wilayah yang lebih luas.
Pada citra 3 September, tubuh Anak Krakatau terlihat berwarna cokelat keabu-abuan yang menjadi ciri batuan dan material vulkanik, dengan plume putih tipis di area puncak. Pulau Sertung, Pulau Panjang, dan Pulau Rakata masih terlihat hijau oleh vegetasi.
Sementara itu, citra 5 September memperlihatkan plume yang jauh lebih luas dan tebal dengan rona putih hingga abu-abu. Permukaan gunung di bawahnya tidak lagi dapat diamati.
“Pada 5 September kami kehilangan permukaan gunungnya. Yang terekam tinggal plume,” kata Ardian. “Kalau hanya bersandar pada citra warna alami, awan meteorologis biasa bisa terbaca sebagai abu vulkanik. Karena itu kami masuk ke kanal inframerah.”
Tim mencatat bahwa area terang pada citra tidak otomatis berarti abu, begitu pula area gelap tidak otomatis menunjukkan lava. Keduanya perlu diuji menggunakan kanal spektral lain sebelum dapat disimpulkan.
Arah Sebaran Cocok dengan Analisis BMKG
Untuk melihat skala regional, tim membaca produk Volcanic Ash BMKG berbasis Himawari-9. Pada citra 6 September pukul 08.00 WIB, area dengan rona merah hingga merah kehitaman terlihat di sekitar Selat Sunda dan memanjang ke arah barat hingga barat daya.
BMKG dalam pembaruan 7 September 2026 pukul 07.00 WIB mengidentifikasi dua klaster sebaran. Lapisan permukaan hingga 15.000 kaki bergerak ke arah tenggara sampai barat laut, mencakup sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.
Sementara itu, lapisan hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat, menuju Samudra Hindia dan menjauhi wilayah Indonesia.
“Saya cek ulang produk Volcanic Ash BMKG tanggal 6 September, arahnya sama dengan yang kami baca,” ujar Cinda Kamilah Harahap. “Buat mahasiswa, ini pertama kalinya hasil olahan sendiri ternyata sejalan dengan produk resmi.”
Daniel Dermawansyah Putra Saragih menyoroti keterbatasan data optik yang digunakan dalam analisis.
“Waktu tutupan awannya tebal, Sentinel-2 praktis tidak terpakai. Untuk analisis lanjutan kami mau coba radar Sentinel-1, karena radar menembus awan,” ujarnya.
Status Masih Siaga
Badan Geologi Kementerian ESDM menetapkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap pada Level III (Siaga) berdasarkan evaluasi hingga 7 September 2026. Status tersebut telah berlaku sejak 2 Juli 2026.
Fase erupsi menerus yang berlangsung sejak Jumat malam, 4 September 2026, dinyatakan berakhir pada 6 September 2026. Namun, erupsi lepas masih terjadi. Erupsi terakhir tercatat pada 6 September pukul 20.23 WIB.
Sepanjang periode 6–7 September 2026, seismograf merekam tiga kali gempa erupsi dan empat kali tremor menerus.
PVMBG melarang masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki memasuki radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Warga yang terpapar abu juga diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker.
Badan Geologi turut meminta warga pesisir Banten dan Lampung tidak mempercayai isu tsunami. Pertumbuhan tubuh gunung setelah erupsi Desember 2018 dinilai masih relatif kecil dan tidak berpotensi runtuh dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Abu vulkanik juga telah berdampak terhadap aktivitas masyarakat. BMKG menyatakan sebarannya menurunkan kualitas udara dan jarak pandang serta berpotensi mengganggu penerbangan pada ketinggian tertentu. BMKG juga telah menerbitkan peringatan SIGMET.
Sejumlah bandara sempat ditutup sementara pada 6 September 2026. Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta memberlakukan pembelajaran jarak jauh mulai 7 September 2026.
Terkait rujukan informasi, Ardian menyebut dua lembaga yang menjadi sumber utama.
“Status gunung ada di PVMBG lewat MAGMA Indonesia. Sebaran abu dan urusan penerbangan ada di BMKG. Analisis kampus posisinya pelengkap,” ujarnya.
Tim URO menyatakan analisis akan dilanjutkan dengan perhitungan indeks NDVI dan NBR serta pemanfaatan citra radar Sentinel-1.












