Berita

Bina Cendekia Luhur Tanamkan Kepemimpinan dan Akhlak Mulia, Siapkan Mahasantri Jadi Pemimpin Masa Depan

×

Bina Cendekia Luhur Tanamkan Kepemimpinan dan Akhlak Mulia, Siapkan Mahasantri Jadi Pemimpin Masa Depan

Sebarkan artikel ini
Bina Cendekia Luhur Tanamkan Kepemimpinan dan Akhlak Mulia, Siapkan Mahasantri Jadi Pemimpin Masa Depan
Khadimul Rumah Ngaji Bina Cendekia Luhur, Dr. H. Abdurroohman, M.Ed., bersama Gus AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal) menyampaikan materi pembinaan kepada mahasiswa dan mahasantri di Bina Cendekia Luhur, Lampung Selatan. (Foto: Istimewa)

Potensinews.id – Bina Cendekia Luhur kembali menggelar kegiatan pembinaan bagi mahasiswa dan mahasantri sebagai upaya memperkuat karakter, kepemimpinan, serta nilai-nilai keislaman. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen lembaga dalam mencetak generasi intelektual muslim yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia, jejaring yang luas, dan semangat pengabdian kepada umat serta bangsa.

Bina Cendekia Luhur merupakan pondok pesantren sekaligus rumah ngaji yang berlokasi di Kabupaten Lampung Selatan. Lembaga tersebut menjadi wadah pembinaan karakter, penguatan keilmuan, dan pengembangan kepemimpinan bagi mahasiswa serta mahasantri agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Kegiatan pembinaan dihadiri Khadimul Rumah Ngaji Bina Cendekia Luhur, Dr. H. Abdurroohman, M.Ed., Kasi PAPKI H. Ahmad Tsauban, S.Ag., para peserta, serta keluarga besar Bina Cendekia Luhur.

Mengawali arahannya, Dr. H. Abdurroohman menyambut para peserta dengan penuh kehangatan.

“Selamat datang di gubuk kita,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa keberhasilan seseorang tidak semata ditentukan oleh luasnya pengetahuan, tetapi juga oleh kemampuan membangun hubungan baik dengan sesama.

Baca Juga:  Mahasantri Bina Cendekia Luhur Jadi Presenter di Konferensi Internasional ICONIE 2026

“Terkadang kita itu tidak hanya bisa dilihat dari apa yang kita ketahui, tetapi juga dari siapa yang kita kenal. Karena perjalanan kita tidak lepas dari relasi yang kita bangun,” katanya.

Menurutnya, ilmu pengetahuan akan semakin bernilai apabila diiringi akhlak yang baik, silaturahmi, dan kemampuan berkolaborasi.

“Jangan hanya menjadi pribadi yang memiliki isi, tetapi tidak memiliki relasi. Ilmu harus berjalan bersama dengan silaturahmi dan akhlak yang baik,” tegasnya.

Sebagai penguat, Dr. Abdurroohman mengutip sabda Rasulullah SAW:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

“Agama adalah nasihat.”

Ia menjelaskan bahwa hadis tersebut mengajarkan pentingnya kepedulian, saling mengingatkan dalam kebaikan, serta menghadirkan nilai-nilai Islam dalam setiap aspek kehidupan.

Pada sesi berikutnya, Gus AR Waluyo Wasis Nugroho atau yang akrab disapa Gus Wal mengajak para mahasantri memahami besarnya kontribusi santri dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Baca Juga:  Puji Raharjo: Mari Kita Perkuat dan Sebarkan Kebaikan Melalui Digital

“Santri memiliki jejak perjuangan yang luar biasa. Sejarah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran santri, karena perjuangan para santri telah menjadi bagian dari perjalanan bangsa ini,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa seorang santri harus mampu membaca tidak hanya teks, tetapi juga konteks. Ilmu yang dipelajari, kata dia, harus mampu menjawab tantangan zaman sekaligus memberikan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.

Selain itu, Gus Wal mengingatkan pentingnya ketulusan dalam mengabdi kepada guru sebagai jalan memperoleh keberkahan ilmu.

“Santri yang mengabdi kepada kiai dengan tulus, insya Allah akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan dunia maupun akhirat,” tuturnya.

Dalam penyampaiannya, Gus Wal juga mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”

Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat agar setiap mahasantri senantiasa menjaga ukhuwah Islamiyah, mempererat persaudaraan, dan saling mendukung dalam menebarkan kebaikan.

Menutup materinya, Gus Wal mengajak seluruh mahasantri untuk bangga dengan identitas sebagai santri sekaligus mahasiswa. Di mana pun mereka berkiprah, jiwa kepemimpinan harus terus tertanam.

Baca Juga:  Ponpes Bina Cendekia Luhur Ikuti Konferensi Internasional Transformasi Pesantren

“Banggalah menjadi santri. Apa pun profesi kalian nanti, tanamkan dalam alam bawah sadar bahwa saya harus menjadi pemimpin,” pesannya.

Ia juga memotivasi para peserta agar mampu mengubah setiap tantangan menjadi peluang untuk menghadirkan kemaslahatan.

“Bangun mental kalian dari sekarang. Jadikan masalah menjadi maslahat,” pungkasnya.

Melalui kegiatan pembinaan tersebut, Bina Cendekia Luhur kembali menegaskan komitmennya dalam membentuk mahasiswa dan mahasantri yang unggul secara akademik, berkarakter kuat, memiliki jejaring yang luas, serta berjiwa kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Dengan bekal ilmu, akhlak, relasi, dan semangat pengabdian, diharapkan lahir generasi mahasantri yang siap menjadi pemimpin, penggerak perubahan, sekaligus penerus perjuangan umat yang mampu memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan peradaban.