Prof. Dr. H. Moh. Mukri, M.Ag: Hiduplah Seperti Pohon Berbuah

  • Bagikan
Prof. Dr. H. Moh. Mukri, M.Ag Ketua PBNU Lampung. (Potensinews.id/HPS. Ist)

Potensinews.id, BANDARLAMPUNG — Setiap individu dapat menjadi pribadi yang senantiasa memberi manfaat pada orang lain. Diibaratkan kehidupan yang senantiasa selalu memberi manfaat, seperti pohon yang memiliki akar kuat, batang yang kuat, dan buah yang lebat.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. H. Moh. Mukri, M.Ag, baru-baru ini.

“Akar adalah iman kita, batang adalah amal kita, dan buah adalah wujud kita memberi manfaat pada orang lain,” terangnya.

Pohon yang tak berbuah, walaupun besar dan rindang maka menurutnya cenderung akan ditebang oleh orang karena kurang memberi manfaat. Namun pohon yang memiliki buah yang memberi manfaat akan terus dirawat.

Baca Juga:  Bupati Lampung Selatan H. Nanang Ermato Tampil Apik Pada Laga Kesebelas Red Brothers

“Jadi, mari hidup dengan terus memberi bermanfaat dan meraih keberkahan. Mari menjadi pohon yang berbuah. Khairunnas anfauhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat pada orang lain,” katanya.

Untuk meningkatkan kualitas pohon kehidupan, maka perlu kuatnya akar keimanan agar prinsip menebar kebaikan bisa terselenggara dengan baik. Tidak hanya tampilan pohon saja yang terlihat kuat namun kropos akarnya sehingga gampang tumbang.

Prof Mukri menambahkan, mampu memberi kebaikan dan manfaat kepada sesama, seperti pohon yang berbuah, merupakan sebuah kenikmatan. Ia meyakini, jika seseorang memiliki jiwa yang senang berbagai maka kebaikan lebih besar akan diterimanya.

“Akan muncul kenikmatan ketika kita mampu memberi. Dan Allah akan memberi lebih dari apa yang telah diberikan kepada orang lain dengan ikhlas. Min haitsu la yahtasib. Dari jalan yang tidak disangka-sangka,” ungkapnya.

Baca Juga:  Polsek Sekincau berikan teguran untuk pelanggar lalu lintas

Terkait dengan hal ini, Prof Mukri juga mengingatkan, setiap individu untuk senantiasa menjaga keikhlasan dalam memberi kepada orang lain. Ia mengingatkan jangan sampai ada niat atau harapan lain kepada orang yang diberi karena akan berdampak buruk pada kebaikan yang dilakukan.

“Kalau kita mengharapkan sesuatu kepada orang yang kita beri, maka siap-siap kita akan kecewa. Maka yang paling utama adalah tetap berbuat baik untuk tetap terselenggaranya kebaikan,” ungkapnya.

Tidak berharap banyak kepada orang lain menjadi hal yang penting karena jangankan orang lain, diri kita sendiri juga sering tidak bisa memenuhi keinginan dari diri kita sendiri. (*/HPS)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *