Potensinews.id — Lampung lagi Lampung lagi, tuan rumah agenda nasional. Kali ini giliran Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) helat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2026 di Hotel Grand Mercure, Bandarlampung, Sabtu-Ahad ini, 22–23 Agustus. Kabar penyehat jantung bisnis wisata MICE setempat.
Peserta pendaftar dari Sabang sampai Merauke hadir bertandang mengikuti Rakernas yang hunus tema raya “Dari Sai Bumi Ruwa Jurai untuk Indonesia Emas 2045: Penguatan Daya Saing Perguruan Tinggi Swasta yang Mandiri, Inovatif, Kolaboratif, dan Berdampak” ini.
Panitia nasional lewat sejumlah prakondisi tampaknya menggadang tema ini sebagai pandu kendali perumusan program strategis penguatan daya saing PTS lewat empat pilar utama: Mandiri (ketahanan lembaga), Inovatif (pembelajaran dan riset adaptif), Kolaboratif (kemitraan multipihak), dan Berdampak (solusi nyata untuk bangsa).
Ditengah arus transformasi pendidikan tinggi di Indonesia antara lain via peningkatan sinergi kolaborasi dan perkuatan ekosistem inovasi pentahelix plus perguruan tinggi, dunia usaha dunia industri dan dunia kerja (DUDIKA), komunitas masyarakat, kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, plus media; lewat program bagus Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) per 2020-kini dan mulai menuai hasil terbangunnya jejaring link and match kampus dan DUDIKA.
Sekaligus bersamaan, ditengah situasi jengah PTS di Tanah Air urai kusut masai daftar inventarisasi masalah berantai masa ke masa yang tak kunjung plong lega alih-alih usai.
Sebut, dari bentang kendala aksesibilitas: kebutuhan PTS buka akses pendidikan tinggi (dikti) warga terus dihantui agresifitas perguruan tinggi negeri (PTN) terutama PTN-BH buka senada (misal jor-joran tambah kuota penerimaan calon mahasiswa plus perluasan SPMB jalur mandiri) yang berimbas PTS krisis pendaftar krisis mahasiswa.
Lalu kendala “isi tas”: ulah disparitas aksesibilitas berimbas kapasitas fiskal PTS menjadi terbatas, lantas berimbas PTS (kecil menengah) sukar meningkatkan kuantitas jua kualitas serta ketercukupan fasilitas, sumberdaya sivitas (termasuk dalam rekrutmen/pertahankan dosen S3 atau guru besar), serta memenuhi kebutuhan peningkatan akreditasi prodi maupun entitas demi terjaganya sistem penjaminan mutu, cegah risiko pelebaran disparitas kualitas. Kendala cekak ini bisa meluas tidak saja sebatas jebakan batman nun bahkan hingga hadirnya cenayang likuiditas. PTS ditutup. Naas.
Sampai kendala tersembunyi, faktor X yang hanya diketahui Tuhan Maha Mengetahui dan kalangan terbatas. Menunggu ada yang ‘nyanyi’ baru bisa benderang diulas.
Pantauan putus-putus hingga Jum’at (21/8/2026), atmosfer ragam prakondisi teknis, mobilisasi sumberdaya, konsolidasi pengurus pusat dan 13 wilayah keanggotaan hingga ribuan PTS dan Badan Hukum Penyelenggara PTS (BHP/yayasan) anggotanya, kiwari terus memuncak.
Termasuk 118 PTS anggota di Lampung (BPS: 2024), bagian dari 125 perguruan tinggi tersebar di 96 desa/kelurahan di 15 kabupaten/kota. Bersama 7 PTN, yakni Unila, UIN Raden Intan Lampung, Universitas Terbuka, di Bandarlampung; ITERA, Polinela, Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang di Lampung Selatan; plus UIN Jurai Siwo Kota Metro.
Ke-118 PTS itu—baik akademi, institut, politeknik, sekolah tinggi, universitas; terbanyak di Bandarlampung (34) disusul Metro (13), Lampung Timur (11), Pringsewu, Lampung Utara masing-masing 10, Lampung Selatan (8), Tanggamus dan Lampung Tengah masing-masing 7, Way Kanan (5), Tulang Bawang (4), Tulang Bawang Barat (3), Pesawaran, Mesuji, Pesisir Barat masing-masing 2. Rerata kampus, sadar tuan rumah. Riuh maupun senyap, rerata tampak berbenah.
Pengingat, APTISI sebagai organisasi profesi per embrionik bercikal bakal dari lahirnya Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (BM-PTSI) pada 1984 silam. Munas IV BM-PTSI di Jakarta, 1-3 Maret 1999, yang ubah “Badan Musyawarah” menjadi “Asosiasi”. Sebab itu per historis, visi misi, tujuannya tak terpisah dari BM-PTSI.
Praktis sejak terdaftar di (saat itu) Ditjen Sospol Depdagri Nomor 123/1999/VIP hingga kini, selain berkomitmen ragam program pemajuan PTS dan pendidikan nasional, APTISI memposisikan diri sebagai mitra kritis pemerintah dalam pembangunan bangsa yang terkait pendidikan pun sosial kemasyarakatan sesuai amanat konstitusi serta Tri Darma atau Catur Darma Perguruan Tinggi.
Pengejawantahannya dijembreng 13 wilayah keanggotaan hingga kini, batang asosiasi. Wilayah 1 meliputi Sumatra Utara (I-A) dan Aceh (I-B); Wilayah 2 yakni Sumatra Selatan (II-A) dan Bengkulu (II-C); Wilayah 3 yaitu Lampung (II-B) dan DKI Jakarta (III); Wilayah 4 meliputi Jawa Barat (IV-A) dan Banten (IV-B); Wilayah 5 yakni DIY (V) dan Jawa Tengah (VI); Wilayah 6 yaitu Jawa Tengah (VI-A) dan Bali (VI-B).
Berikut, Wilayah 7 meliputi NTT (VII-A), NTB (VII-B); Wilayah 8 yakni VIII-A Sulawesi, VIII-B Manado – Gorontalo; Wilayah 9 yaitu Sumatra Barat (IX-A), Jambi (IX-B); Wilayah 10 Riau (X-B), Kepulauan Riau (X-D); Wilayah 11 Kalimantan (XI-A) dan Kalimantan Timur (XI-B); Wilayah 12 Ambon – Ternate (XII-A); Wilayah 13 Papua (XII-B), Papua Barat (XII-C).
Pun dengan ditingkahi fakta tak terelakkan, kompetisi sengit gagut simpati calon mahasiswa tiap tahun akademik baru tiba. Yang kendati salah satunya terbantu oleh terus naiknya jumlah mahasiswa terdaftar per tahunnya, merujuk linimasa setidaknya sejak 2011, kecuali sempat menurun pada 2016.
Pada 2011 ada 5,36 juta mahasiswa, naik menjadi 6,23 juta pada 2012, menjadi 6,42 juta pada 2013, menjadi 6,45 juta pada 2014, menjadi 6,58 juta pada 2015, tetiba menjadi 6,15 juta pada 2016. Lantas naik lagi drastis menjadi 7,74 juta pada 2017, menjadi 7,95 juta (2018), dan 8,48 juta (2019). Pun terus naik kurun 2020–2025.
Studi kasus menarik di tubuh PTS republik terjadi kurun ini —penanda pasang surut sekaligus seleksi alam buah tragis kalah saing, gagal naik kelas gagal napas: 130 PTS ditutup kurun 2015–2019.
Pun dialektikanya hingga kini sejak APTISI lahir 1999 alias 27 tahun kemudian. Saat Laporan Tahunan Statistik Pendidikan Tinggi 2025 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mencatat jumlah PTS Indonesia ada 2.713 atau 63% dari total 4.303 kampus. Selain 127 PTN dibawah Kemdiktisaintek, 87 Perguruan Tinggi Agama (PTA) negeri dan 1.231 PTA swasta ampuan Kementerian Agama dan 145 perguruan tinggi kedinasan (PTK).
Dengan jumlah mahasiswa terdaftar mencapai 10.754.154 orang di total jenjang dikti di total perguruan tinggi pada 2025, naik 9,29% (bertambah 915 ribuan) dibanding enam tahun sebelumnya. Sekitar 55,9% di antaranya perempuan, dan 2.150.000 di antaranya mahasiswa baru.
Proporsi terbesar PTS 44,95% setotal 4.833.473 mahasiswa, PTN 40,99% setotal 4.408.472 mahasiswa, PTA Negeri 7,17% setotal 770.933 mahasiswa, PTA Swasta 4,71% setotal 506.519 mahasiswa, PTK 2,18% setotal 234.757 mahasiswa.
Masih dari olah data Statistik Pendidikan Tinggi 2025 itu, ada 10 program studi (prodi) S1 dengan mahasiswa aktif terbanyak di seluruh perguruan tinggi tahun tersebut. Di urutan pertama —satu-satunya prodi terfavorit tembus 1 juta: Manajemen dengan 1.096.786 mahasiswa.
Disusul, Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dengan 544.740 mahasiswa, Ilmu Hukum 395.677 mahasiswa, Akuntansi 360.843 mahasiswa, Ilmu Komunikasi 265.435 mahasiswa, Pendidikan Agama Islam 245.486 mahasiswa, Teknik Informatika 234.983 mahasiswa, Sistem Informasi 208.348 mahasiswa, Administrasi Negara 206.046 mahasiswa, dan Teknik/Rekayasa Sipil 154.682 mahasiswa.
Berikut, 10 prodi diploma (D1-D4) dengan mahasiswa aktif terbanyak di total perguruan tinggi (idem terfavorit) 2025. Per urutan, Keperawatan 73.412 mahasiswa, Kebidanan 50.995 mahasiswa, Farmasi 29.337 mahasiswa, Perpajakan 28.607 mahasiswa, Teknologi Laboratorium Medis 27.013 mahasiswa, Akuntansi 26.094 mahasiswa, Manajemen Informatika 21.324 mahasiswa, Teknik Informatika 15.725 mahasiswa, Teknik/Rekayasa Mesin 14.141 mahasiswa, dan Perhotelan 13.518 mahasiswa.
Bedah proporsi antar jenjang prodi, tertinggi S1 dengan 8.542.317 mahasiswa (79,43%), Diploma 939.540 mahasiswa (8,74%), Pendidikan Profesi 776.286 mahasiswa (7,18%), Magister 401.692 mahasiswa (3,77%), Doktoral 73.494 mahasiswa (0,68%), Spesialis 20.780 mahasiswa (0,19%).
Digenapi sebaran angka partisipasi kasar berbasis prodi berlulusan mahasiswa terbanyak, ada 10 prodi bidang. Per urut, Prodi Pendidikan dengan 12.188.570 lulusan (60,78%), Prodi Ekonomi 8.908.902 lulusan (52,88%); Teknik/Rekayasa 7.990.889 lulusan (50,98%); Sosial 7.601.778 lulusan (48,64%); Kesehatan 5.149.315 lulusan (69,60%); Pertanian 1.948.590 lulusan (53,69%); MIPA 1.335.775 lulusan (61,15%); Agama 1.009.969 lulusan (47,50%); Humaniora 967.246 lulusan (52,96%); dan Seni 411.458 lulusan (47,14%).
Selain susun perspektif dari pangkalan data nasional mahasiswa PTN, PTS, PTA, dan PTK yang dihimpun guna menganalisis berkedalaman bagaimana tren pendidikan memengaruhi sebaran mahasiswa enam tahun terakhir; memuat tren jumlah mahasiswa dan preferensi peminatan prodi tertinggi 2025; serta, menyebut faktor utama yang melukiskan utuh lanskap akademik: dinamika pertumbuhan tahunan, karakteristik demografi, dan proporsi berbasis kelompok kelembagaan.
Statistik Pendidikan Tinggi 2025 juga menguak dua poin menarik nun pelik sekaligus secara manajemen risiko mesti menjadi alarm dan materi PR raksasa agar makin membaik.
Pertama, laporan tahunan ini di dalamnya menyebut ada peningkatan masif jumlah mahasiswa terdaftar namun saat yang sama ketersediaan prodi di bidang Sains, Teknologi, Teknik/Rekayasa, dan Matematika masih belum merata.
Kedua, tak kalah mengejutkan: masih relatif tingginya angka putus kuliah (drop out/DO) baik mengundurkan diri atau dikeluarkan. Meski secara garis waktu angkanya konsisten menurun melandai kurun 2019–2025, bersamaan jumlah mahasiswa baru dan lulusannya terus meningkat.
Pada 2019, jumlah mahasiswa Indonesia yang DO 602.208 orang (7%) dari total 8.483.213 mahasiswa terdaftar tahun tersebut. Terbanyak dari rumpun prodi ekonomi, disusul teknik, pendidikan, dan sosial.
Pada 2020, saat data Ditjen Diktiristek mencatat perguruan tinggi di 34 provinsi ada 4.593 dan dosen pengajar 312.890 orang, selain ada 1.535.074 lulusan mahasiswa. Yang DO ada 601.333 hingga 602.263 orang (7,1% dari total 8,6 juta mahasiswa terdaftar). Sebagian besar: 478.826 (79,5%) dari PTS, 101.758 dari PTN. Rumpun tertinggi dari prodi ekonomi 141.393, teknik/rekayasa 136.272, pendidikan 120.655 orang.
Pada 2021, yang DO 480.449 (5,34%) dari total 8.956.184 mahasiswa terdaftar. Angka DO ini turun 37,71% dari 2020.
Pada 2022, saat data Ditjen Diktiristek mencatat perguruan tinggi di 34 provinsi ada 4.522 dengan 9,32 juta mahasiswa terdaftar meliputi 4,49 juta mahasiswa PTS, 3,38 juta di PTN, 1,25 juta di PTA, 196.268 di PTK; dengan proporsi terbanyak 7,83 juta mahasiswa S1, 607.288 mahasiswa D3, 351.892 mahasiswa S2, 273.894 mahasiswa D4. Yang DO 375.134 orang (4,02%). Turun 21,92% dibanding 2021.
Pada 2023, angka DO berkurang menjadi 352.494 hingga 375.314 orang dari total 9.967.487 mahasiswa terdaftar di total 33.741 prodi dengan 303.067 dosen di 4.004 kampus.
Pada 2024, dari total 9.967.487 mahasiswa terdaftar meliputi 8.281.591 mahasiswa S1, 543.693 mahasiswa D3 dan 1,14 juta jenjang lainnya, di total 4.416 kampus, yang DO 282.274 orang. Di 2024 pula, dari 284,4 juta penduduk Indonesia per Desember, selain baru 24,3% yang tamat SD, yang tamat perguruan tinggi juga baru 6,82 persen!
Terakhir 2025, angka DO justru naik 2,62% dibanding 2024 menjadi 289.670 orang. Mayoritas dari PTS (73,81% hingga 79% dari total kasus), berdasar usia terbanyak di rentang muda 21–30 tahun, pertanda hambatan struktural dialami kelompok usia kritis ini lebih dalam daripada kurangnya motivasi belajar semata.
Didominasi mahasiswa laki-laki, serta berasal dari rumpun ekonomi dan teknik, kelompok DO fase usia ini menghadapi kombinasi kendala ekonomi atau keterbatasan kemampuan finansial mandiri, dorongan lebih besar masuk pasar kerja atau tuntutan segera bekerja, dan tekanan akademik atau beban studi (peluang penyelesaian studi amat terbatas).
Menilik jenjang, DO terbanyak S1 hampir semua jurusan ekonomi, teknik, sosial, pendidikan. Disusul D3 dan D4 rumpun teknik, kesehatan, ekonomi, baru S2 dan S3. Kecenderungan umumnya, mahasiswa DO berasal dari “angkatan tua” terutama S1 dan S3 dan terjadi mendekati batas akhir masa studi.
Adapun 5 provinsi dengan DO tertinggi 2025: Jabar 51.359, DKI 35.899, Jatim 30.260, Banten 20.814, Jateng 20.582. Di DKI, Banten, Jabar; proporsi mahasiswa DO latar PTS cukup tinggi, di atas 86% bahkan tertinggi 93,79% di DKI.
Catatan kementerian, apabila tingginya DO terus dibiarkan akan berisiko perlebar kesenjangan mahasiswa yang bisa manfaatkan peluang gelar akademik, dengan yang merasa perguruan tinggi bukan lagi ruang layak dipertahankan.
LAMPUNG SIAP
Terakhir, rapat persiapan pematangan Rakernas taja APTISI Pusat di Universitas Komputer Indonesia (Unikom) Bandung 14 Juni lalu turut dihadiri Mendiktisaintek Brian Yuliarto.
Kehadiran sang menteri menegaskan pentingnya sinergi pemerintah dan PTS dorong transformasi pendidikan tinggi nasional. Arahan Brian menekankan perguruan tinggi harus jadi motor penggerak inovasi, pengembangan sains dan pencetak SDM unggul yang mampu bersaing global.
Pelbagai aspek strategis Rakernas dibahas: konsep acara, agenda sidang, substansi rekomendasi kebijakan, hingga kolaborasi antar wilayah. Fokus utama Rakernas Agustus: penguatan tata kelola PTS, transformasi digital kampus, peningkatan mutu akademik, pengembangan ekosistem riset dan inovasi.
Ketua APTISI Wilayah II-B Lampung, Dr. Firmansyah Yunialfi Alfian menyebut keterpilihan Lampung tuan rumah, sebab miliki potensi besar pengembangan pendidikan tinggi dan inovasi daerah. “Lampung adalah laboratorium pendidikan yang terus tumbuh. Kami ingin jadikan Rakernas tonggak kebangkitan perguruan tinggi swasta di Sumatra,” ujar dua periode ketua ini mantap.
Meski minim gembar-gembor, orang nomor satu di Lampung, Rahmat Mirzani Djausal jua telah declare dukung penuh: Lampung tuan rumah. Gubernur latar insinyur teknik sipil Unila itu sebelumnya lulusan PTS: S1 FT Universitas Trisakti seangkatan (1998) beda fakultas dengan Batin Wulan sapaan Purnama Wulan Sari, sang nyonya.
Seturut, Yan Aditya Pratama, koordinator acara menyebut Lampung telah maksi siapkan diri. Rakernas jadi momentum penting PTS Indonesia perkuat kolaborasi, susun langkah strategis hadapi tantangan pendidikan tinggi di era digital.
“Lampung siap jadi tuan rumah yang tidak hanya sukses penyelenggaraan, tetapi juga mampu hadirkan forum produktif dan hasilkan rekomendasi konkret bagi kemajuan PTS di Indonesia,” sebutnya.
Merangkum asa keduanya, Rakernas Lampung diharap jadi ruang konsolidasi nasional anggota APTISI perkuat peran PTS dukung visi Indonesia Emas 2045 dan momentum strategis perkuat sinergi antar perguruan tinggi sekaligus perkenalkan kekayaan potensi Lampung kepada peserta se-Indonesia, serta mampu hasilkan pelbagai rekomendasi strategis relevan dengan kebutuhan pendidikan tinggi kini.
Per rundown, agenda hari pertama, Sabtu (22/8/2026), penyambutan dan registrasi peserta check-in pukul 12.00–18.00. Lanjut Gala Dinner “Nemui Nyimah” dan pentas budaya di Mahan Agung, rumah dinas jabatan Gubernur Lampung, Jl Dr Susilo, Telukbetung Utara, Bandarlampung, pukul 19.00–22.00 WIB.
Esoknya, Ahad (23/8/2026), heregistrasi peserta 07.30, coffee morning, seremoni pembukaan diawali pelantikan pengurus APTISI Lampung, pidato kunci, arahan kebijakan, dan diskusi bersama hingga usai jelang Zuhur. Usai jeda ishoma lanjut Sidang Pleno I–V termasuk mahapuncak penyampaian rekomendasi nasional.
Selain sang Ketua Umum APTISI 2025–2030 produk Munas Bandung Agustus tahun lalu (kini jua Komisaris Utama PT Pos Indonesia), Prof. Dr. Ir. HM Budi Djatmiko, M.Si., M.E.I.; Waketum Prof Dr E.S. Margianti; beserta 34 nama pengurus pusat termasuk dua asal Lampung.
Yakni, Kabid Organisasi dan Hubungan Internal, Dr Po Abas Sunarya; Kabid Humas dan Dokumentasi Dr Andre Ikhsano; Kabid Dana dan Usaha Prof Dr Arissetyanto Nugroho; Kabid Hukum dan Advokasi, Prof Dr Ahmad Sudiro; Kabid Dosen dan Tenaga Kependidikan Prof Dr Giyatmi; Kabid Hubungan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI) Prof Dr Azhar Affandi; Kabid Penguatan Indonesia Timur, Dr Husni Ingratubun; dan Kabid Hubungan Luar Negeri, George Iwan Marantika.
Berikut nama tak asing asal Lampung dimaksud, yakni Kabid Empowering dan Kewirausahaan cum Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Prof Dr M Nasrullah Yusuf; dan Kabid Kemahasiswaan dan Kepanduan cum Rektor Universitas Bandar Lampung (UBL) Prof Dr M Yusuf S Barusman. Lalu, Kabid Harmonisasi Lembaga dan Badan Penyelenggara, Prof Dr MTS Arief; Kabid Hubungan Instansi Pemerintah Dr Ridwan; serta Kabid Ketua Bidang LLDIKTI dan Kelembagaan Dr Paristiyanti Nurwardani.
Lalu fungsionaris Divisi Iptek dan Akademik, yakni Kabid Akreditasi Prof Zainal Arifin Hasibuan PhD; Kabid Teknologi dan Inovasi Prof Dr Eddy Soeryanto Soegoto; Kabid Ristek Penmas I Made Artana; Kabid Pembelajaran Jarak Jauh dan Digitalisasi Kampus Prof Dr M Wahyudi, Kabid Sistem Informasi Prof Dr Pulung Nurtantio Andono; Kabid Jurnal Ilmiah dan Publikasi Prof Dr Untung Rahardja; Kabid Pembelajaran dan Akademik Prof Dr Mustofa Kamil; Kabid Uji Kompetensi dan Sertifikasi Prof A Harits Nu’man; dan Kabid Pendidikan Teknologi dan Informasi Dr Nelly.
Serta, fungsionaris Divisi Kajian Kebijakan dan Dikti, yakni Kabid Kajian Kebijakan Ekonomi Hijau dan SDGs Andrey Andoko PhD; Kabid Kajian Kebijakan Pemerintah Prof Dr Furtasan Ali Yusuf; Kabid Kajian dan Masalah Dikti Vokasi
Akhwanul Akhmal; Kabid Kajian dan Masalah Dikti Teknik dan Sains Prof Dr Suyanto; Kabid Kajian dan Masalah Dikti Ekonomi Dr M Isa Indrawan; Kabid Kajian dan Masalah Dikti Sosial dan Humaniora Prof Dr Agus Subagyo.
Berikut, Kabid Kajian dan Masalah Dikti Pendidikan Prof Dr rer. pol Didik Notosudyono; Kabid Kajian dan Masalah Dikti Kesehatan Dr Ida Farida; Kabid Kajian dan Masalah Dikti Hukum Prof Dr Masduki Ahmad; Kabid Kajian dan Masalah Dikti Pertanian Prof Dr Asep Saefuddin; Kabid Kajian dan Masalah Dikti Kesenian Prof Dr M Suyanto; dan Kabid Kajian dan Masalah Dikti Agama Prof Dr Raihan.
Selain ke-36 nama dan ratusan rektor, tidak saja Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Ketua DPRD Lampung Ahmad Giri Akbar plus Kadisdikbud Lampung Thomas Amirico, info terhimpun menyebut selain Mendiktisaintek Brian Yuliarto didampingi Kepala LLDikti II Palembang siap hadir, sejumlah nama penting kabarnya bakal hadir senada.
Misal anggota DPR/MPR dapil Lampung I cum Ketua KADIN Lampung yang juga Rektor Universitas Malahayati Lampung Dr M Khadafi. Juga nama lain yang jua rektor yakni anggota DPR/MPR dapil Lampung I cum Ketua MPR Ahmad Muzani, dan Wakil Ketua DPR yang selain Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Pakuan juga Rektor Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) Bandung per 2020, Prof Dr Sufmi Dasco Ahmad.
Teranyar, Ketua APTISI II-B Lampung Dr Firmansyah Yunialfi Alfian yang juga mantan Rektor IIB Darmajaya Lampung, belum berkenan dan masih menyimpan rapat sejumlah kejutan agenda yang disebutnya surprise Rakernas. “Jika dibocorin sekarang enterprise namanya, bukan surprise,” ujarnya terbahak dari ujung telepon, Jum’at.
Mengingat bicara daya saing, juga bicara debottlenecking atas tantangan utama paling mendasar PTS di Indonesia yakni kebersinambungan kapasitas fiskal akibat tingginya ketergantungan pada dana masyarakat (SPP) sebagai sumber pembiayaan terandal, sehingga mayoritas PTS bergantung jumlah mahasiswa pendaftar untuk biayai operasional salah satunya sebagai basis kapital penciptaan hingga pencapaian daya saing lokal hingga global.
Diprediksi, Rakernas 2026 ini boleh jadi keras upaya dalam mebedah itu dan beri solusi terbaik yang tak kalah keras kepada pemerintah.












