Opini

NU Pascamuktamar: Kembali ke Akar, Melangkah ke Masa Depan

×

NU Pascamuktamar: Kembali ke Akar, Melangkah ke Masa Depan

Sebarkan artikel ini
NU Pascamuktamar: Kembali ke Akar, Melangkah ke Masa Depan
H. Makmur, M.Ag., Wakil Ketua PWNU Lampung. | Ist

Potensinews.id – Pesan Tersembunyi dari Muktamar Ke-35 Tambakberas.

Muktamar NU ke-35 di Tambakberas telah selesai. Rais Aam dan Ketua Umum PBNU telah terpilih. KH Miftahul Ahyar kembali dipercaya sebagai Rais Aam, sementara KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dipercaya memimpin Tanfidziyah.

Namun, Muktamar tidak hanya tentang siapa yang terpilih. Ada pesan yang jauh lebih penting: ke mana NU akan melangkah setelah ini?

Jika dicermati dari gagasan yang disampaikan para pemimpin NU, sepertinya ada satu arah yang hendak ditegaskan: kembali ke akar, tetapi bukan untuk kembali ke masa lalu. Justru untuk menemukan pijakan yang kokoh agar mampu melangkah ke masa depan.

Salah satu gagasan penting yang muncul adalah keinginan menjadikan kembali Qanun Asasi karya Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari sebagai pijakan dan road map perjalanan NU.

Qanun Asasi bukan sekadar dokumen sejarah. Ia merupakan rumusan dasar yang sejak awal dimaksudkan sebagai pedoman bagi NU dalam menjalankan kehidupan jam’iyah. Setelah Muktamar Situbondo 1984 dan kembalinya NU kepada Khittah 1926, Qanun Asasi kembali menjadi fondasi penting. Namun, selama ini perhatian lebih banyak tertuju pada bagian awalnya. Kini muncul dorongan untuk membaca dan menjadikannya pedoman secara lebih utuh.

Baca Juga:  Lampung Darurat LGBT

Di sinilah makna “kembali ke akar” menjadi penting. Kembali ke akar bukan berarti NU harus mundur ke masa lalu. Pohon yang sehat justru semakin tinggi karena akarnya semakin kuat. Semakin jauh NU ingin melangkah, semakin kuat pula ia harus mengenali akar sejarah dan nilai yang membentuknya. Inilah visi Gus Kikin, sang nakhoda baru PBNU.

Menariknya, gagasan tersebut bertemu dengan pesan Rais Aam KH Miftahul Ahyar dalam sambutannya pada penutupan Muktamar yang merujuk pada tiga ayat Al-Qur’an: Al-Baqarah ayat 30, Hud ayat 61, dan Adz-Dzariyat ayat 56.

Al-Baqarah ayat 30 mengingatkan manusia tentang tugas sebagai khalifah di bumi. Hud ayat 61 berbicara tentang tugas memakmurkan bumi. Sedangkan Adz-Dzariyat ayat 56 mengingatkan bahwa seluruh perjalanan hidup pada akhirnya bermuara kepada pengabdian kepada Allah.

Jika ketiga ayat itu dibaca sebagai satu kesatuan, seakan ada sebuah peta perjalanan: menata kehidupan, memakmurkan bumi, dan mengabdikan semuanya kepada Allah.

Baca Juga:  Jepang dan Belanda Mengajarkan Ketangguhan

Inilah yang membuat Muktamar ke-35 menjadi menarik. NU tidak hanya berbicara tentang bagaimana mengurus organisasi, tetapi tentang bagaimana menghadirkan manfaat yang lebih luas. Bukan hanya membesarkan struktur, tetapi membangun peradaban. Bukan hanya memperbanyak lembaga, tetapi memastikan keberadaannya benar-benar memberi kemaslahatan.

Karena itu, kembali kepada Qanun Asasi harus dibaca sebagai upaya memperkuat identitas, bukan menutup diri dari perubahan.

NU harus tetap menjadi NU, tetapi NU yang mampu menjawab persoalan zaman.

Dunia berubah sangat cepat. Teknologi berkembang, kecerdasan buatan hadir, pola ekonomi berubah, generasi muda memiliki cara berpikir yang berbeda, dan persoalan kemanusiaan semakin kompleks. NU tidak mungkin menjawab semuanya hanya dengan cara-cara lama.

Namun, perubahan juga tidak boleh membuat NU kehilangan arah. Akar memberi identitas. Masa depan membutuhkan keberanian.

Karena itu, tugas kepemimpinan baru bukan sekadar menjaga apa yang sudah ada, tetapi menerjemahkan nilai-nilai warisan para muassis ke dalam bahasa zaman.

Mungkin inilah pesan tersembunyi dari Muktamar Tambakberas: NU harus kembali menemukan akarnya agar mampu menentukan arah masa depannya.

Baca Juga:  Garuda Milik Seluruh Rakyat Indonesia 

Kita tidak tahu seperti apa NU lima puluh atau seratus tahun mendatang. Tetapi kita bisa memastikan satu hal: NU harus tetap menjadi rumah besar yang berilmu, beradab, berkhidmah, dan memberi manfaat.

Muktamar telah selesai. Pemimpin telah dipilih. Kini saatnya bekerja. Sebab, pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya hanya siapa yang terpilih di Tambakberas. Sejarah akan bertanya: apa yang mereka lakukan setelah terpilih?

Jika Qanun Asasi menjadi pijakan, Khittah menjadi kompas, ilmu menjadi dasar, dan kemaslahatan umat menjadi tujuan, maka insyaallah NU tidak hanya akan mampu bertahan menghadapi perubahan zaman, tetapi juga mampu ikut menentukan arah perubahan itu.

Kembali ke akar bukan untuk mundur. Kembali ke akar adalah cara untuk tumbuh lebih tinggi, melangkah lebih jauh, dan menjemput masa depan.

Sukses untuk seluruh muktamirin.

 

Oleh: H. Makmur, M.Ag.
Wakil Ketua PWNU Lampung