Potensinews.id – Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe mencatat adanya peningkatan kasus HIV/AIDS sepanjang tahun 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga pertengahan tahun ini, jumlah kasus HIV yang tercatat mencapai 86 kasus, meningkat dari 77 kasus pada tahun 2025.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe, dr. Handry Pasandaran, mengingatkan masyarakat bahwa HIV bukanlah aib, melainkan infeksi virus yang dapat dicegah penularannya, dideteksi sejak dini, dan diobati secara teratur.
“HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dengan merusak sel-sel darah putih. Jika tidak diobati, infeksi ini dapat berkembang menjadi AIDS,” ujar Handry Pasandaran saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu, 24 Juni 2026.
Menurutnya, pengobatan HIV yang dilakukan secara rutin dapat membantu pasien tetap sehat, produktif, dan menjalani kehidupan dengan baik. Sebaliknya, jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat, HIV dapat berkembang menjadi AIDS yang ditandai dengan munculnya berbagai penyakit penyerta yang berpotensi membahayakan jiwa.
Ia menjelaskan bahwa HIV dapat menular melalui hubungan seksual berisiko tanpa pelindung, penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah yang terkontaminasi, serta penularan dari ibu kepada bayi selama masa kehamilan, persalinan, atau menyusui tanpa pengobatan yang memadai.
Namun demikian, Handry menegaskan bahwa HIV tidak menular melalui kontak sosial sehari-hari seperti berjabat tangan, berpelukan, makan bersama, menggunakan toilet bersama, gigitan nyamuk, batuk, maupun tinggal serumah dengan orang yang hidup dengan HIV.
Untuk mencegah penularan HIV, masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup sehat dan bertanggung jawab, termasuk setia kepada pasangan, menghindari perilaku seksual berisiko, tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian, serta memastikan alat tato dan tindik dalam kondisi steril.
“Kami juga mengimbau ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin agar potensi penularan dari ibu ke bayi dapat dicegah sejak dini,” katanya.
Handry menambahkan, masyarakat yang pernah melakukan aktivitas berisiko atau memiliki kekhawatiran terkait status HIV dianjurkan segera melakukan pemeriksaan.
“Melakukan tes HIV adalah cara terbaik untuk mengetahui status kesehatan kita. Semakin dini diketahui, semakin besar peluang untuk mendapatkan pengobatan yang efektif dan mempertahankan kualitas hidup yang baik,” ujarnya.
Saat ini, puskesmas di Kabupaten Kepulauan Sangihe telah menyediakan layanan pemeriksaan HIV secara gratis bagi masyarakat. Menurutnya, deteksi dini menjadi langkah penting untuk menekan perkembangan penyakit sekaligus mencegah penularan lebih lanjut.
Selain edukasi dan layanan kesehatan, Handry juga mengajak masyarakat untuk menghilangkan stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV.
“Mereka membutuhkan dukungan keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitar. Jangan mengisolasi atau mendiskriminasi mereka. Yang harus kita tolak adalah penyakitnya, bukan orangnya,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa meskipun hingga saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan HIV secara total, terapi yang tersedia mampu menekan jumlah virus dalam tubuh hingga sangat rendah sehingga pasien tetap dapat hidup sehat, bekerja, dan beraktivitas secara normal.
“Saya mengajak seluruh masyarakat untuk tidak memberikan stigma dan diskriminasi kepada penderita HIV. Mari kita dukung mereka secara psikologis, sosial, dan keluarga agar tetap sehat, produktif, dan memiliki harapan hidup yang baik,” pungkasnya.












