Opini

Harapan dari Piala Dunia

×

Harapan dari Piala Dunia

Sebarkan artikel ini
Harapan dari Piala Dunia
Harapan dari Piala Dunia

Potensinews.idSejarah sering kali mengajarkan bahwa di tengah kesulitan ekonomi, masyarakat membutuhkan lebih dari hanya kebijakan. Mereka juga membutuhkan harapan, hiburan, dan ruang untuk sejenak melepaskan beban pikiran. Dalam konteks itulah olahraga, khususnya sepak bola, memiliki kekuatan sosial yang sering kali tidak disadari banyak orang.

Saya masih mengingat dengan cukup jelas suasana Indonesia pada tahun 1998. Saat itu bangsa ini berada dalam salah satu fase paling sulit dalam sejarah modernnya. Krisis moneter meluluhlantakkan sendi-sendi ekonomi.

Harga kebutuhan pokok melonjak, pengangguran meningkat, demonstrasi terjadi di berbagai daerah, dan pada akhirnya Presiden Soeharto mengakhiri masa pemerintahannya setelah lebih dari tiga dekade berkuasa.

Di tengah gejolak besar tersebut, ada satu peristiwa yang sedikit banyak membantu mengalihkan perhatian masyarakat dari tekanan hidup sehari-hari, yakni perhelatan Piala Dunia 1998 di Prancis.

Saat rakyat menghadapi ketidakpastian ekonomi dan politik, pertandingan sepak bola menjadi hiburan yang menyatukan.

Perdebatan tentang tim favorit, gol-gol indah, hingga aksi para pemain dunia menjadi bahan percakapan yang mampu menghadirkan senyum di tengah kecemasan.

Kini, hampir tiga dekade kemudian, Piala Dunia kembali hadir. Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sejak 11 Juni hingga 19 Juli 2026 menjadi perhatian miliaran pasang mata di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Tentu kondisi Indonesia hari ini tidak sama dengan tahun 1998. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat sedang menghadapi berbagai tantangan ekonomi.

Baca Juga:  Menyoroti Kasus Siswa Bunuh Diri di Kabupaten Ngada NTT

Ketidakpastian geopolitik global, perlambatan ekonomi di berbagai negara, fluktuasi harga komoditas, tekanan terhadap daya beli masyarakat, hingga meningkatnya biaya hidup menjadi persoalan yang dirasakan banyak keluarga Indonesia.

Dalam situasi seperti ini, sepak bola mungkin tidak mampu menyelesaikan masalah ekonomi.

Sepak bola juga tidak bisa menggantikan peran pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja, menjaga stabilitas harga, atau meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Namun sepak bola memiliki kemampuan lain yang tidak kalah penting, yaitu menjaga optimisme masyarakat.

Kita sering meremehkan nilai sebuah hiburan. Padahal secara psikologis, hiburan yang sehat dapat membantu mengurangi stres sosial, mempererat hubungan antarmasyarakat, dan membangun suasana yang lebih positif di tengah berbagai tekanan kehidupan.

Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan tontonan olahraga kelas dunia. Di Indonesia, ajang ini juga telah menciptakan efek ekonomi yang cukup menarik.

Pemerintah melalui kebijakan penyiaran yang memungkinkan masyarakat menikmati pertandingan secara luas melalui TVRI telah membuka peluang bagi tumbuhnya berbagai aktivitas ekonomi rakyat.

Tradisi nonton bareng atau nobar kembali hidup di berbagai daerah. Mulai dari berbagai fasilitas umum kota, balai desa, warung kopi, kafe, hingga lingkungan perumahan menjadi tempat berkumpul masyarakat untuk menikmati pertandingan bersama.

Fenomena ini mungkin terlihat sederhana. Namun jika ditelaah lebih jauh, dampaknya terhadap ekonomi rakyat cukup signifikan.

Pedagang kopi memperoleh tambahan pelanggan. Penjual gorengan dan makanan ringan mengalami peningkatan penjualan.

Baca Juga:  Salah Sistem, Evaluasi Total Rekrutmen Pejabat Negara 

Pelaku UMKM yang menjual kaus, syal, dan atribut sepak bola mendapatkan pasar baru. Pemilik usaha kecil di sekitar lokasi nobar ikut menikmati peningkatan aktivitas ekonomi.

Dalam ilmu ekonomi, kondisi seperti ini dikenal sebagai _multiplier effect_ atau efek berganda.

Satu kegiatan utama akan memunculkan berbagai aktivitas ekonomi turunan yang melibatkan banyak pihak.

Perputaran uang yang terjadi memang mungkin tidak sebesar proyek-proyek infrastruktur nasional.

Namun justru karena bersentuhan langsung dengan rakyat kecil, manfaatnya terasa lebih nyata.

Yang menarik, kegiatan nobar juga menunjukkan bagaimana ruang publik dapat menjadi sarana memperkuat kohesi sosial.

Di sana berkumpul berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang suku, agama, profesi, maupun pilihan politik. Semua larut dalam semangat yang sama sebagai pecinta sepak bola.

Di tengah polarisasi yang masih sering muncul dalam kehidupan sosial dan politik, suasana seperti ini memiliki nilai yang sangat berharga.

Karena itu patut diapresiasi dukungan berbagai pihak dalam menjaga keamanan kegiatan nobar.

Kehadiran aparat keamanan dari Polri maupun TNI bukan hanya untuk menjaga ketertiban, tetapi juga memastikan ruang publik tetap aman dan nyaman bagi seluruh masyarakat.

Sepak bola memang bukan solusi tunggal bagi persoalan bangsa. Akan tetapi sepak bola mampu menghadirkan energi positif yang sering kali dibutuhkan masyarakat untuk tetap optimistis menghadapi masa depan.

Kita tentu berharap pemerintah tetap fokus mencari jalan keluar atas berbagai tantangan ekonomi yang ada.

Baca Juga:  Harga Singkong Anjlok, Prajurit Lanudad Way Kanan Putar Otak Olah Panen Jadi Gaplek Bernilai Tinggi

Kebijakan yang berpihak kepada rakyat, penguatan sektor UMKM, penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi, serta perlindungan daya beli masyarakat harus tetap menjadi prioritas utama.

Namun di saat yang sama, tidak ada salahnya jika masyarakat memanfaatkan momentum Piala Dunia sebagai sarana rekreasi yang sehat dan murah.

Menikmati pertandingan bersama keluarga, sahabat, dan tetangga dapat menjadi cara sederhana untuk menjaga semangat di tengah berbagai kesulitan.

Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu menghadapi krisis dengan kekuatan ekonomi dan politik.

Bangsa yang besar juga adalah bangsa yang mampu menjaga harapan warganya di tengah tantangan.

Karena itu, marilah kita menikmati Piala Dunia 2026 dengan penuh kegembiraan. Mari kita jadikan sepak bola sebagai ruang persatuan, hiburan, dan penguat optimisme.

Sambil menikmati indahnya permainan di lapangan hijau, kita tetap harus berpikir jernih, bekerja keras, dan bersama-sama mencari solusi terbaik demi terwujudnya kesejahteraan rakyat Indonesia yang lebih merata di masa depan.

Karena pertandingan sepak bola akan berakhir. Trofi akan diangkat oleh satu negara pemenang.

Namun perjuangan membangun Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera adalah pertandingan panjang yang harus terus kita menangkan bersama.

 

Bandar Lampung, 14 Juni 2026

Oleh: Junaidi Ismail, S.H. | Ketum Poros Wartawan Lampung